Kebencian Gadis Beranak Satu

Kebencian Gadis Beranak Satu

Ini adalah cerpen kelanjutan dari cerpen bukti janji yang menyesatkan. Jadi silakan sobat baca terlebih dahulu cerpen tersebut.

Di pagi hari yang masih berembun, terlihat Layla sedang berjalan dan menikmati pagi di pinggiran kampung yang terletak tak jauh dari kota kecil. Perempuan tersebut menggunakan hijab lebar berwarna merah dan memakai rok panjang berwarna hitam, selayaknya muslimah yang taat.

Layla berjalan di sebelah kiri jalan dan  ia terus berjalan melewati setiap rumah di kampung itu, yang rata-rata masih tertutup pintunya. Di sebuah jalan yang lumayan sempit Layla menemukan suatu hal yang sangat menarik dan menurutnya itu adalah sesuatu yang sangat indah.

Layla melihat bunga yang sangat indah di sebelah kanan jalan. Ia pun berusaha mendekat dan mengamati bunga tersebut.

Ketika ia mendekat, aroma bunga itu sangat wangi. Tak perlu berpikir panjang, Layla pun segera memetik bunga indah nan wangi itu.

Tapi tiba-tiba dari arah berlawanan, datang seorang yang mengendarai motor jadul dengan sangat kencang. Dan Layla yang berdiri di bagian kanan jalan pun akhirnya tertabrak oleh motor jadul yang melaju kencang itu karena Layla tepat berdiri di jalur milik motor itu.

Kecelakaan yang tak bisa dihindari itupun membuat Layla terkapar di jalan dengan luka di bagian betis kiri dan kedua lengannya. Terlihat betis dan lengannya berdarah, raut wajah Layla pun meringis kesakitan, dan di sertai tetesan air mata yang membasahi pipinya.

Layla pun berusaha bangkit dari posisinya yang terkapar itu. Namun ia hanya mampu untuk duduk dan ia belum mampu untuk berdiri. Layla masih merasa kaget dan tegang karena ditabrak oleh motor yang melaju kecang itu.

Sedangkan motor jadul bernama astrea yang menabrak Layla pun terjatuh namun pengendara motornya terlihat baik-baik saja. Lelaki yang mengendarai motor jadul itu pun berusaha membangkitkan motornya. Sebenarnya lelaki itu ingin menolong Layla namun ia terlihat sedang buru-buru karena ia selalu memperhatikan jam tangannya.

Saat mendengar rintihan korban yang ia tabrak, lelaki itu semakin tak tega meninggalkannya begitu saja tapi di sisi lain ia juga sedang terburu-buru. Tak ada yang bisa lelaki itu lakukan selain meminta maaf. Dan ia pun kembali menaiki motornya dan sambil terus meminta maaf.

Layla yang mendengar permintaan maaf berkali-kali itu pun hanya cuek saja, dia tak menggubris lelaki itu. Layla pun berusaha untuk berdiri lagi namun Layla tetap tak mampu berdiri. Usahanya untuk berdiri yang gagal justru membuat luka di betisnya terlihat.

Lelaki itu pun melihat luka di betis Layla. Darah segar dari luka itu mengalir ke kaki Layla yang putih. Lelaki itu panik, ia pun seger menyalakan motor jadulnya. Lelaki yang sedang terburu-buru itu justru berbalik arah dan tidak melanjutkan perjalanannya.

Tiga menit kemudian lelaki itu datang kembali menemui korbannya yaitu Layla. Tapi lelaki itu tidak hanya sendirian, ia bersama seorang perempuan yang umurnya sudah tak muda lagi. Perempuan tua itu berpenampilan khas ibu-ibu rumah tangga ala kampung. Ia berpakaian daster, memakai kerudung dan memakai sendal jepit.

Saat tiba di tempat Layla terduduk, perempuan tua itu segera mengevakuasi Layla ke pinggir jalan yang  sebelumnya terduduk di tengah jalan dengan luka berlumuran darah . Sedangkan lelaki yang menabrak Layla buru-buru menyalakan kembali motornya.

Mak, saya langsung berangkat ya?” ujar lelaki itu kepada perempuan tua yang sedang membersihkan luka Layla.

Loh!! kamu ini gimana sih, mbknya ini dibawa ke rumah kita dulu, obat-obatnya kan ada dirumah semua!” ucap perempuan tua itu dengan nada membentak.

Haduhhh…mak, ini lagi buru-buru, kalau nggak buru-buru udah saya anterin langsung kerumahnnya mak!” Jawab lelaki itu dengan nada cepat. “Lagian rumah kita kan deket mak dari sini, Assalamualikum!!” ucap lelaki itu sambil mengegas motor jadulnya dan dia kembali melanjutkan perjalanannya berangkat ke tempat kerja.

Perempuan tua itupun bingung bagaimana cara membawa Layla kerumahnya. Walaupun rumahnya memang dekat tapi membawa orang yang tak mampu berdiri tetep akan sulit.

Layla yang melihat perempuan tua itu bingung cara membawa dirinya, akhirnya  ia dengan sekuat tenaganya bangkit dari posisi duduknya.

Eeee…mbk jangan berdiri dulu nanti darahnya keluar lagi!” ujar perempuan tua itu sambil memegang lengan Layla.

Nggak apa-apa Bu, saya masih kuat jalan juga kok.” Ucap Layla sambil meringis kesakitan.

Beneran kamu masih kuat buat jalan?” Tanya perempuan tua itu dengan memperhatikan wajah Layla.

Layla pun hanya bisa menjawab pertanyaan perempuan tua itu dengan menganggukan kepalanya, sambil menahan rasa sakit.

Kalau begitu langsung kerumah ibu aja, biar sekalian diobatin.” Ucap perempuan tua itu sambil memegang lengan kiri Layla dan menaruhnya di pundak.

Mereka berdua akhirnya berjalan dengan pelan dan tertatih-tatih menuju rumah perempuan tua itu.

Sesampainya di depan rumah perempuan tua itu, Layla terdiam dan terheran-heran sambil merasakan sakit pada lukanya.

Apakah ini rumah ibu?” tanya Layla sambil melihat wajah perempuan tua itu.

Iya mbk, ini rumah saya. Ya…seperti inilah halamannya, selalu berantakan.” Ucap perempuan tua itu malu-malu sambil melepaskan lengan kiri Layla dan berusaha mendudukan Layla di kursi yang berada di teras rumahnya. “Mbk tunggu di sini dulu ya, saya mau ambil obatnya dulu.” ujar perempuan tua itu sambil masuk kerumahnya.

Layla yang duduk di kursi, hanya bisa merasakan sakit dan merasa terkagum-kagum dengan halaman rumah perempuan tua itu yang di penuhi oleh berbagai macam tanaman hias. Dari tiap sudut halaman rumah itu dipenuhi warna-warni bunga yang membuat Layla merasa sedikit terhibur, karena Layla sendiri sangatlah menyukai bunga.

Halaman rumah saya memang berantakan mbk kalau pagi begini, belum sempet nyapu sayanya.” Ujar perempuan tua itu sambil keluar dari rumahnya dan membawa obat untuk luka Layla.

Oh…tapi kalau halamannya dipenuhi bunga seperti ini tetep indah kok, Bu.” Ucap Layla sambil tersenyum kepada perempuan tua itu.

Maaf mbk ya, saya lihat lukanya lagi, biar saya obati.” Minta perempuan tua itu pada Layla sambil duduk di lantai tepat di depan Layla.

Layla merasa tak enak hati melihat orang yang lebih tua berada di bawahnya, ia segera berusaha turun dari kursi yang ia duduki.

Loh! Loh! Mbknya kok malah turun?” tanya perempuan tua itu pada Layla dan memasang wajah kaget.

Hehe nggak apa-apa, Bu. Enak di bawah, lagian ibukan lebih tua, jadi nggak sopan kalau saya di atas kursi.” Jawab Layla sambil duduk dan menahan sakit.

Heealah, gitu aja kok jadi masalah mbk…mbk.” ujar perempuan tua itu sambil tersenyum malu.

Perempuan itu pun mulai mengobati luka-luka Layla. Terlihat wajah manis Layla mengkerut-kerut karena menahan sakit. Dan perempuan tua itu pun merasa kasihan terhadap Layla.

Oh iya nama mbk ini siapa ya? sampai lupa  kenalan nih.” Tanya perempuan tua itu untuk mengalihkan perhatian Layla agar tidak terlalu merasakan sakit.

Nama saya Layla, Bu” jawab Layla dengan tersenyum dan masih terlihat menahan sakit. “Saya keponakan pak Heri dan Neli. Sudah hampir seminggu saya di sini.” Ucap Layla dengan senyuman masam.

Mendengar jawaban Layla Perempuan tua itu agak sedikit kaget.

Layla ya…saya sendiri biasa di panggil Mak Rani di kampung ini, kalau nama aslinya sih Raniem.” Ucap perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Layla dengan senyuman.

Apakah…ibu sudah pernah mendengar nama saya?” tanya Layla kepada Mak Rani dengan sedikit ragu.

Kalau pernah dengar namanya sih enggak, tapi kalau dengar tentang kamu sih pernah, La. Biasa lah ibu-ibu kampung serba tahu hehehe” Ucap Mak Rani sambil membalut luka Layla dengan kain perban. “Saya yakin kamu pasti orang yang kuat, La. Karena saya sendiri mengalami bagaimana hidup sendiri dan menjadi janda.” Ucap perempuan tua itu sambil menatap mata Layla dengan optimis.

Tapi Bu, sebenarnya saya ini bukan janda Bu, saya belum pernah menikah, Bu.” Dengan berat hati Layla mengucapkan kebanaran tentangnya.

Jadi kamu gadis beranak satu, La.” Ucap Mak Rani dengan sedikit perihatin. “Saya nggak bisa bayangin La, penderitaan kamu dan anakmu selama ini seperti apa.” Ucap Mak Rani menatap Layla dengan melas.

Mungkin itu semua adalah hukuman dan konsekuensi atas perbuatan saya dulu, Bu.” Ucap Layla dengan tertunduk dan tersenyum masam.

Tapi melihat kamu seperti saat ini, saya yakin kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik.” ucap Mak Rani dengan optimis. “Ngomong-ngomong anak kamu laki apa perempuan dan berapa umurnya?” tanya Mak Rani mengubah topik pembicaraan.

Anak saya laki-laki Bu, umurnya 2 tahun.” Jawab Layla dengan sedikit tersenyum.

Akhirnya rumah pak Heri dan bu Neli ada anak kecilnya…kalau ada anak mbk Layla rumahnya bakal ramai ya.” ujar mak Rani dengan nada bahagia.

Ibu Rani sendiri tinggal bersama siapa saja di rumah ini?” tanya Layla yang ingin lebih mengenal Mak Rani.

Kalau saya sih cuman berdua dengan anak laki-laki saya, saya sendiri sudah menjanda sejak anak saya masih SMP. Suami saya meninggal karena penyakit. Sejak ditinggal saya kerja keras buat anak saya satu satunya orang yang saya miliki.” Ucapnya dengan nada agak bersedih. “Tapi sekarang anak saya sudah bekerja. Saya malah dilarang untuk bekerja lagi oleh anak saya.” Ucap Mak Rani sambil membersihkan sisa-sisa kain perban.

Memang anak ibu, kerja di mana?” tanya Layla sambil mengecek perban yang ada di lengannya.

Dia bekerja di toko bunga…Oh iya mbk, saya juga mau minta maaf karena anak saya sudah nabrak mbk Layla. Anak saya kalau lagi buru-buru memang sering kehilangan kontrol.” Jelas Mak Rani sambil meminta maaf.

Sebenernya itu juga bukan sepenuhnya kesalahan anak ibu. Saya juga salah, karena saya berdiri di jalan orang lain, gara-gara saya pingin memetik bunga.” Ucap Layla dengan menyesal.

Apakah kamu juga suka bunga, La?” tanya Mak Rani sambil memandang bunga-bunga dihalaman yang terkena sinar matahari pagi. “Anak saya juga suka bunga, semua bunga yang ada di halaman ini yang menanamnya adalah dia. Setiap di toko ada jenis bunga baru ia selalu meminta satu dari toko tempat ia bekerja.” Jelas Mak Rani sambil membuang sampah sisa-sisa kain perban.

Sejak kecil saya suka bunga, Bu.” Ucap Layla sambil tersenyum melihat Mak Rani yang berdiri di sampingnya. “Lalu siapa nama anak ibu?” Tanya Layla sambil tersenyum kepada Mak Rani.

Anak ibu bernama Reno, sebenarnya dia anak yang baik. Tapi semenjak ditinggal ayahnya, ia sangat sulit di atur dan selalu melakukan sesuatu dengan sesukanya.” Jawab Mak Rani sambil  mengeluhkan sifat anaknya.

Re..re..reno!!!” ucap Layla dengan wajah kaget, dan mengingatkannya dengan seseorang yang sangat ia benci.

Iya, maafkan anak saya ya, La? karena sudah membuat kamu jadi luka-luka seperti ini.” Ujar Mak Rani kembali meminta maaf pada Layla.

Layla pun hanya menganggukan kepalanya dan ia masih membayangkan masa-masa suramnya saat bersama seseorang yang namanya sama dengan anak Mak Rani.

Kenapa ada orang yang namanya sama dengan orang keji seperti dia.

 [irp]

Kebenaran Sang Gadis Desa

Kebenaran Sang Gadis Desa

Terlihat seorang pemuda yang berusaha nyaman untuk tidur di sebuah sofa. Pemuda tampan berkumis tipis itu sedang bermalas-malasan. Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh dari kota ke desa. Bersama rombongan keluarga kecilnya. Ia berlibur ke kediaman bibinya yaitu adik perempuan dari ayahnya.

Merasa lelah adalah hal pasti, karena perjalanan dari kota ke desa membutuhkan banyak energi. Ya, walaupun menaiki mobil tetep saja sangat melelahkan.

EPISODE 1 “ITUKAH GADIS DESA”

Di sebuah desa yang sangat jauh dari hingar bingar suasana bising kota. Edo hanya berdiam diri dan menunjukan wajah kusutnya yang menandakan perasaanya sadang kesal di pagi yang cerah itu.

Entah hal apa yang membuatnya menjadi kesal jika pergi ke desa, tapi satu hal yang jelas menjadi masalah bagi Edo yaitu tidak adanya sinyal di desa.

Ya, itulah satu-satunya masalah besar yang sedang dihadapi Edo. Ia terlihat seperti orang bingung jika tiada sinyal untuk hp ataupun laptop miliknya.

Tentu saja menjadi masalah besar bagi Edo karena ia adalah pemuda yang sangat aktif di media sosial. Dia akan merasa tertinggal jika ia tak membuka akun media sosialnya.

Dirumah bibinya Edo hanya duduk dan tiduran saja tanpa ada kegiatan yang bisa ia lakukan.

Edo, kamu nggak mau jalan-jalan keliling desa.” Tawar sang bibi sambil tersenyum.

Emang di desa ada apaan Bi?” Tanya Edo sambil memajukan bibir bawahnya.  “Palingan cuman pemandangan doangkan. Kalau cuma pemandangan, di taman kotaku juga bagus tamannya. Malah lebih indah dengan gadis-gadis cantiknya.” Ujar Edo.

Masa sih?” tanya bibi sambil menurunkan satu alisnya. “Kalau di sini, soal gadis cantik nggak kalah loh, Do.”  Ujar bibi dengan nada menggoda.

Tetep kalah cantiklah sama yang di kota, gadis kota jelas lebih pinter make upnya.” Tegas Edo menyakinkan sang bibi bahwa gadis kota lebih cantik dari gadis desa.

Aduhh… aduh… gadis kota musti make up dulu buat cantik. Kalah dong sama gadis desa yang cantik tanpa harus pake makup.”  Jelas sang bibi.

” Edo hanya terdiam mendengar pendapat sang bibi.

Edo pun berusaha bangkit dari posisi duduknya. Dan dia keluar menuju halaman rumah sang bibi yang penuh dengan bunga.

Edo mau ke mana?” Tanya bibi dengan nada agak bertriak dan kepo.

Mau lihat-lihat bunga di sekeliling desa!”. Ucap Edo balas bertriak kepada bibinya dari kejauhan.

Ngapain keliling desa, lagian bibi sudah koleksi semua bunga yang ada di desa ini.” Ucap bibi yang menyusul ke depan pintu rumah dan melihat Edo mulai berjalan ke jalan desa.

Di tempat bibi sempit tamannya.” Jawab Edo sambil tersenyum dan berjalan santai.

Terserahlah, hati-hati ya!. Nanti kalau kesasar tanya saja ke orang, di mana rumah bi sopiah!” Jelas sang bibi dengan nada agak khawatir.

Edo pun berjalan santai dan berniat untuk keliling desa. Tapi bukan untuk melihat atau mencari  tanaman bunga melainkan mencari bunga desa.

Setelah beberapa kali bertemu orang di jalan namun dia sama sekali tidak menemukan satu gadis pun di desa itu.

Edo terheran-heran karena di pagi secerah itu ia tak menemukan seorang gadis pun. Berbeda dengan di kota. Jangankan pagi, malam pun gadis-gadis banyak yang berkeliaran. Edo merasa kecewa dan menyesal tak bisa menemui satu gadis pun di desa itu.

Tau begini mending tidur saja tadi. Buang-buang waktu banget.”. Ujar Edo kecewa berat.

Edo akhirnya berbalik arah untuk pulang. Saat berbalik, Edo berpapasan dengan  motor  besar yang dikendarai oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan membonceng  seorang gadis cantik dibalut jilbab coklat. Mata gadis itu terlihat indah dengan hidungnya yang sedikit pesek namun kulitnya begitu putih dan  bersih tanpa make up, dan benar-benar khas seorang gadis desa.

Gadis desa itu pun tak sengaja melihat Edo berdiri di jalan, dan gadis itu memandang Edo dengan tatapan lembut lalu sedikit menganggukkan kepalanya, menandakan sedang menyapa Edo.

Saat melihat gadis itu menyapa, Edo hanya memikirkan satu hal. Yaitu betapa cantik sekali gadis berjilbab coklat itu. Edo pun hanya menga-nga melihat gadis desa yang pertama ia lihat di desa itu . Namun pandangan Edo terhenti ketika laki-laki yang membonceng gadis itu menoleh ke arah Edo.

Apakah itu suaminya?” Tanya Edo dalam hati. Dan tampak ia masih penasaran pada perempuan cantik itu.

Ia pun segera pulang untuk bertanya banyak hal kepada bibinya. Sambil berjalan pulang Edo terheran-haran dan tak pernah menyangka ia akan bertemu dengan gadis secantik itu. Tapi Edo juga penasaran siapakah laki-laki yang memboceng sang gadis cantik itu. Apakah laki-laki itu sumainya?

EPISODE 2 “PEMALUNYA SEORANG BUNGA DESA”

Sesampainya di depan rumah, Edo segera mencari sang bibi. Namun, belum juga mulai mencari, Edo malah dipanggil oleh bibinya yang berada di taman sekaligus kebun sayur di depan rumah bibi.

Edo,  puas nggak lihat bunga di sekitar desa?” tanya sang bibi sambil memetik cabe.

Nggak puas bi, justru sangat mengecewakan!” jawab  Edo sambil menghampiri sang bibi.

Loh kok mengecewakan sih, bukannya di desa bunganya bagus-bagus.” Ujar bibi sambil menatap Edo dengan wajah bingung.

Kalau soal bunga memang bagus, bi. Tapi kenapa, di desa ini nggak ada gadis sama sekali ya?” tanya Edo kepada bibinya

Loh sebenernya kamu mau lihat bunga atau mau melihat gadis desa?” Ujar bibi balik bertanya pada Edo. “Lagian kalau di desa, jam pagi seperti ini mah nggak bakal ada gadis main atau keluar rumah. Karena mereka sedang sibuk beres-beres rumah. Jadi gadis desa jangan kamu samain dengan gadis kota.” Jelas bibi pada Edo.

Tapi bi, aku tadi sempet di sapa sama gadis cantik di jalan! Cantikkk sekali gadis itu pakai jilbab, bibi tahu nggak namanya?” tanya Edo pada bibi dengan nada kepo.

Gimana bibi bisa tau namanya, di desa ini hampir semua gadis pake jilbab Edo, gadis berjilbab mana yang kamu maksud?” Tanya bibi sambil memasukan cabe yang baru dipetik ke dalam bungkusan yang terbuat dari koran bekas.

Gadis itu dibonceng laki-laki tegap pake motor gede, bi. Gak tahu deh, laki-laki itu kakak atau suaminya.” Ujar Edo dengan nada ragu.

Ooh, kalau gadis itu bibi tahu.” Ujar bibi sambil menganggukan kepalanya. “Laki-laki itu kakaknya, bukan suaminya. Memang gadis itu selalu dikawal terus oleh kakaknya.”  Ucap bibi memberitahu Edo. “Terus kenapa kamu tanya soal bunga desa itu? Atau kamu naksir ya sama gadis itu.” tanya bibi dengan nada menggoda.

Apaan sih bi, ngada-ngada aja.” Ujar Edo dengan malu-malu. “Tapi bi, memang beneran dia bunga desa di desa ini.” Tanya Edo dengan semangat.

Iya, dia gadis yang sangat baik, pintar, patuh pada orang tua, sholehah dan dia gadis paling cantik di antara gadis-gadis cantik di desa ini. Jadi pantas gelar itu diberikan kepadanya” Jelas bibi pada Edo yang mendengarkan dengan seksama dan seperti sedang menghayalkan sesuatu.

Tapi lebih baik kamu nggak usah mengharap gadis itu deh.” Saran bibi kepada Edo yang sedang melamun dan tak mendengar saran tersebut. “Heh, dibilangin malah ngelamun?” tegur sang bibi sambil tersenyum dan memecah lamunan Edo.

Bibi minta tolong, antarin cabe ini ke warung, kamu bisakan?” ucap sang bibi meminta tolong kepada Edo.

Oh… bisa bi!” jawab Edo dengan semangat.

Lokasi warungnya deket kok, kamu tinggal ikutin aja jalan yang kamu lewatin tadi. Ntar juga ketemu warungnya.” Ucap bibi memberi petunjuk kepada Edo sambil memberikan cabe yang sudah dibungkus rapi dan dimasukan dalam kantong plastik.

Edo pun mulai berjalan menuju ke warung, tapi berhenti dan menoleh ke arah sang bibi.

Boleh tahu nggak bi, rumah gadis itu dimana ya?” tanya Edo kepada sang bibi sambil menaik turunkan alisnya.

Entar setelah nganter cabenya bibi kasih tau.” Jawab bibi dengan santai sambil berjalan masuk ke rumah.

Edo akhirnya pergi menuju warung untuk mengantarkan cabe milik bibinya. Sesampainya di warung, terlihat tak ada satu orang pun di warung itu. Edo pun berusaha memanggil-manggil pemilik warung, namun tetap tak ada jawaban.

Edo pun menuju kerumah sang pemilik warung yang berada tepat di belakang warung. Saat Edo berdiri di depan teras terlihat di dalam rumah itu terdapat gadis yang bergelar bunga desa.

Ya, gadis itu adalah gadis yang sama yang ia temui tadi pagi. Terlihat gadis itu berpakaian rapi seperti seorang santri dari pesanten. Gadis itu sedang membaca sebuah buku dengan serius dan duduk di lantai.

Dari kejauhan Edo membaca cover buku yang sedang gadis itu baca. Buku itu berjudul “ISTRI YANG BAIK DAN SHOLEHAH”.

Setelah membaca judul buku itu Edo hanya menga-nga dan Edo terkagum-kagum melihat gadis itu, yang sudah belajar hal seperti itu. Berbeda sekali dengan gadis kota yang masih asik memikirkan kesenang.

Mas, nyari siapa ya?” tanya seorang lelaki yang berada di samping Edo dan mengalihkan perhatian Edo dari gadis itu.

Ooh.. mas, i..ini saya mengantar cabe dari Bu Sopiah.” Jawab Edo terbata-bata sambil memberikan bungkusan cabe kepada lelaki itu, yang tidak lain adalah kakak dari gadis cantik yang ia pandangi dari tadi.

Ow, Bu Sopiah ya, tunggu bentar ya mas. Saya timbang dulu cabenya, mas tunggu di depan warung saja!” ujar lelaki tegap itu sambil berjalan menuju warung.

Edo pun berjalan menuju ke depan warung dan meninggalkan gadis cantik itu. Saat Edo berjalan menuju warung, gadis itu berhenti membaca dan menaruh bukunya itu dilantai lalu meminum segelas teh hangat yang ada di sampingnya sambil melirik memperhatikan Edo.

Tak sengaja Edo menoleh ke arah gadis yang sedang memperhatikannya itu. Gadis itu pun malu, karena ketahuan sedang curi-curi pandang. Pipi gadis itu pun memerah menandakan ia benar-benar sedang merasa malu.

Gadis itu langsung meletakan gelasnya dan segera mengambil buku untuk melanjutkan membaca sekaligus untuk menutupi wajahnya yang memerah. Edo hanya tersenyum melihat tingkah gadis desa itu.

Edo pun pulang setelah menerima sejumlah uang dari kakak gadis cantik itu. Saat pulang dengan berjalan kaki, Edo tersenyum-senyum sendiri karena teringat tingkah gadis desa itu. Tapi ada satu hal yang menganggu pikiran Edo.

Ya, Edo belum mengetahui siapa nama gadis itu. Oleh karena itu Edo bergegas menuju rumah dan ingin segara menanyakan sesuatu hal lagi.

Tentu saja bukan bertanya tentang dimana rumah gadis itu, melainkan dia akan bertanya tentang siapa nama gadis desa itu.

Dan Edo juga berencana untuk mencari tahu tentang profil gadis itu di media sosial.

EPISODE TERAKHIR “KIRIMAN SANG GADIS DESA”

Sang bibi terlihat sedang memotong kacang panjang yang akan dijadikan menu makan nanti sore. Dengan memandang ke arah luar rumah, terlihat bibi sedang memperhatikan Edo berjalan masuk kehalaman rumah dengan wajah berseri-seri. Sang bibi pun hanya tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya.

Dasar anak muda.” Ucap sang bibi dalam hati.

Bagaimana do, warungnya ketemukan?” Tanya bibi pada Edo yang memasuki rumah.

Ah bibi bisa aja nih, bukannya ngasi tahu dari awal kalau gadis itu yang punya warung.” Ujar Edo sambil menahan senyumnya.

Nah, tapi sekarang sudah tahukan rumah gadis itu.” Ujar bibi dengan nada menggoda dan sambil menerima uang dari Edo.

Setelah Edo memberikan uang dari hasil jual cabe, Edo langsung duduk di dekat sang bibi untuk menanyankan sesuatu.

Bi, nama gadis itu siapa?” Tanya Edo dengan nada pelan seperti orang berbisik.

Loh, kenapa tadi nggak tanya sekalaian?” Ujar bibi balik bertanya.

Tadi yang nerima cabe kakaknya, jadi mana mungkin aku bertanya kepada kakaknya.” Ujar Edo dengan nada melas.

Berarti kamu gak ketemu dong dengan gadis itu?” Tanya bibi kepada Edo dengan ekspresi kaget.

Aku sih sempet lihat dia lagi baca buku di dalam rumah.”  Jawab Edo sambil tersenyum. “Eh, terus siapa dong namanya?” Tanya Edo dengan nada mengoda dan sambil menggoyangkan alisnya.

Namanya…siapa ya, kok bibi lupa ya.” Ujar sang bibi menggoda Edo.

Ayolah bi, jangan bikin penasaran?” ucap Edo yang sangat penasaran.

Udah lah lupain aja, ngapin sih nanyain nama di mulu.” Ujar bibi yang tersenyum kepada Edo.

Ayolah bi, plisss. Aku cuma ingin kenal doang!” Ujar Edo memohon pada sang bibi dengan muka melas dan terlihat imut dengan kumisnya yang tipis.

Namanya, Siti Auliya Safitri.” Jawab sang bibi dengan lembut. “Tapi kamu beneran cuma ingin kenal kan?” Tanya sang bibi pada Edo, namun Edo hanya mematung dan tak mendengar pertanyaan bibinya itu.

Setelah mendengar nama tersebut Edo hanya terdiam, dan ia merasa sangat damai mendengar nama itu.

ahh, kebiasaan nih Edo, kalau dibilangin malah ngelamun!” ujar sang bibi sambil meninggalkan Edo yang terdiam dan tersenyum aneh.

Nama tersebut terus berkeliaran dipikiran Edo tapi walaupun begitu Edo tetap mencatat nama tersebut. Karena nanti dia akan membutuhkannya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang sang bunga desa.

Satu minggu Edo berlibur di rumah sang bibi. Dan selama satu minggu itu setelah ia kenal dengan sang bunga desa dia selalu lari pagi dan melewati rumah gadis cantik itu hanya untuk sekedar melihat sang gadis desa itu.

Dan sampai akhirnya Edo harus menyudahi liburannya dan kembali ke kota.

Sinyal adalah hal yang sangat ia rindukan.  Selain ingin bisa kembali aktif  bermedia sosial ia juga ingin segera mencari tahu tentang profil dari sang gadis desa di media sosial.

Di perjalanan pulang dan di dalam mobil Edo tertidur pulas. Saat ia sudah memasuki wilayah perkotaan, hp Edo bergetar terus menerus karena pemberitahuan dari media sosialnya yang datang secara bersamaan.

Edo pun terbagun dari tidurnya karena hpnya yang terus bergetar. Ia pun segera membuka hpnya itu, tapi dia tidak langsung membuka semua pemberitahuan dari media sosialnya. Melainkan ia segera mencari profil tentang sang bunga desa.

Di media sosial facebook ia mencari profil gadis itu. Edo sedikit khawatir jika gadis itu tak mempunyai akun facebook karena di desa itu sangat sulit sekali mendapatkan sinyal.

Beruntung sang Edo, ia berhasil menemukan profil sang gadis itu. Terlihat foto profil gadis itu hanyalah gambar kartun muslimah. Namun foto sampul dari akun facebook itu adalah foto keluarga dari gadis desa itu yang meyakinkan bahwa itu benar-benar akun dari sang gadis desa.

Edo pun segera melanjutkan pemeriksaan terhadap akun gadis cantik itu. Di halaman about, Edo mendapati hobi sang gadis yaitu membaca buku, Edo tak heran karena dia mengtahui sendiri saat gadis itu sedang melakukan hobinya.

Di halaman foto, Edo hanya menemukan beberapa foto saja. Tak ada foto selfi dari gadis itu. Yang ada hanya foto-foto waktu perpisahan sekolah gadis itu dari saat SD, SMP dan sampai SMA.

Tampaknya  akun facebook itu hanya untuk menyimpan kenangan-kenangan saja.

Lanjut di halaman kronologi.

Di halaman ini, Edo benar-benar dibuat menga-nga. Dan dia benar-benar kaget saat membaca halam kronologi sang bunga desa.

Saat Edo membaca kiriman terbaru dari gadis itu, Edo seperti terjatuh dan terlepas dari harapannya. Terlihat kiriman itu baru diterbitkan 3 hari yang lalu. Di kiriman tersebut terdapat sebuah foto yang seolah menjelaskan dan memberitahukan kepada Edo untuk segera melupakan sang bunga desa.

Ya, kiriman tersebut terdapat sebuah foto  yaitu foto undangan yang tertulis lengkap nama sang gadis desa. Tentu saja itu adalah uandangan pernikahan.

Karena di kiriman tersebut tertulis penjelasan dari sang gadis cantik itu.

“Mohon doanya teman-teman. Semoga pernikahan kami diberi keberkahan. Dan mohon doanya agar saya bisa menjadi istri yang baik dan sholehah”

Dari tulisan yang terdapat di kiriman tersebut, ada tulisan yang tak asing bagi Edo.

Tentu saja tulisan itu sama persis dengan yang ia baca di cover buku yang gadis desa itu baca.

Edo pun hanya menghela nafas dengan perasaan kecewa. Dan ia kembali menutup hpnya lalu lebih memilih kembali tidur. Walaupun perasaannya tersebut sangat mengganjal dihatinya.

Selesai

Bukti Janji yang Menyesatkan

Bukti Janji yang Menyesatkan

Di siang hari yang penuh dengan debu, berdirilah seorang gadis di pinggir jalan dengan rambut lembut dan terurai. Dibalut baju berwarna merah marun dan menyangklong sebuah tas sederhana berwarna hitam.

Gadis itu hanya diam dan sesekali menengok kanan dan kiri seperti menunggu seseorang. Sudah cukup lama ia menunggu di jalan yang lumayan ramai dan penuh dengan debu berterbangan.

Penantiannya pun selesai setelah datang seorang pria memakai masker dan kacamata yang serba berwarna hitam dengan motor besar yang juga warna hitam. Pria itupun membuka kacamatanya dan terlihat pancaran mata sang gadis menjadi bahagia karena bisa melihat kekasihnya lagi.

Sang pria pun menjulurkan tangan kanannya kepada sang gadis. Dengan sigap, sang gadis menjabat tangan pria itu dan tak lupa menciumnya dengan mestra.

Dengan masih tertunduk mencium tangan sang pria, tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Dorrr

Burung-burung di atas pohon pun berterbangan dan beberapa orang yang mendengar suara tembakan itupun kaget termasuk juga gadis itu. Terlihat tangan kiri pria itu memegang sepucuk senjata api yang mengarah ke perut kiri sang gadis.

Gadis itu coba memandang sang pria dengan wajah kaget dan bingung, namun tangan yang sedang dijabat oleh gadis itu ditarik dengan kasarnya. Dan pria itupun mendorong sang gadis hingga jatuh terduduk.

Pria itu berusaha kabur, namun ada beberapa orang yang coba menghalangi dan berusaha menangkapnya. Walapun sempat berkelahi tapi pria itu berhasil kabur dengan motor besarnya. Dan hanya meninggalkan sebuah masker yang sobek.

Beberapa orang yang gagal menghalangi pria itu, melapor kejadian tersebut ke kantor polisi dengan membawa catatan nomor polisi motor yang di pakai pria pelaku penembakan itu.

Di sisi lain gadis berambut panjang itu hanya bisa menangis tersedu-sedu di pinggir jalan dengan kepala yang tertunduk dan rambut yang menutupi wajahnya.

Layla nama gadis itu, ia menangis histeris sambil memegang perut sebelah kiri yang berlumuran darah membasahi bajunya yang bersih berwarana merah marun itu.

Tak disangka pria yang bernama Reno itu tega menembak Layla kekasihnya sendiri. Layla pun hanya bisa menangis dengan perasaannya yang hancur.

Layla merasakan luka yang sangat-sangat menyakitkan di perut dan juga di hatinya.

Hingga akhirnya Layla sampai di rumah sakit dan ia pun tatap menangis tanpa henti. Orang-orang yang menolongnya pun hanya bingung melihat Layla yang terus menangis padahal luka karena timah panas yang berada di perutnya itu sudah diberi obat penghilang rasa sakit.

Teringat kenangan-kenangan yang ia lewati bersama kekasihnya itu, namun semuanya hancur berkeping-keping karena luka yang terdapat di perutnya itu.

Teringatlah sebuah janji dari sang Reno untuk dirinya.

Mana mungkin aku melukaimu dengan tanganku. Aku tak akan melukai dirimu sedikit pun…tidak akan pernah.” Janji yang teringat oleh Layla.

Mas Reno bohong, mas Reno bohong, mas Reno bohong.” Jerit Layla sambil menangis mengingat janji kekasih yang menembaknya itu.

Tenanglah bu…ibu butuh istirahat agar luka di perut ibu tidak menjadi lebih parah. Dan juga agar janin ibu selamat.” Ujar perawat yang sedang membersihkan darah diluka Layla.

Ya…satu-satunya hal yang membuat resah Layla adalah mengapa Reno mau dan berani mencoba membunuh calon bayinya sendiri yang sedang Layla kandung.

Padahal sebelumnya mereka telah saling berjanji bahwa setelah menikah nanti mereka akan mengurus anak yang Layla kandung itu bersama-sama.

Sambil tergeletak di kasur rumah sakit dengan rambut yang terurai di bantal dan dengan tangisnya yang mulai mereda, akhirnya Layla pun tertidur.

Tak beberapa lama, Layla pun kembali terbangun. Dia pun kembali meneruskan tangisannya.

Dia masih tidak percaya Reno mau melakukan hal seperti itu padanya. Karena selama ini Reno lah orang yang sangat-sangat ia percayai dan paling sayang padanya.

Tok tok tok” terdengar orang mengetuk pintu ruangan pasien yang Layla tempati, masuklah 2 orang bapak-bapak, salah satu dari mereka yaitu seorang yang berusaha menangkap Reno saat berusaha kabur dan bersama seorang polisi berbadan tegap.

Dua orang itu hanya ingin meminta keterangan dari Layla.

Maaf ibu Layla kedatangan kami mengganggu anda, kami kemari hanya ingin memberi informasi bahwa pelaku penembakan terhadap ibu sudah kami tangkap dan sudah kami amankan. Dan juga kami akan sedikit meminta keterangan kepada ibu untuk menangani kasus ini.” jelas sang polisi kepada Layla.

Berdasarkan keterangan dari pelaku, apakah benar ibu Layla ini kekasih dari pelaku yang bernama Reno?” tanya sang polisi kepada Layla.

i..i..iya pak” jawab Layla terbata-bata karena sambil menangis.

Pelaku juga terbukti mengkonsumi narkoba.” Tambah sang polisi.

Tapi pak polisi, Reno itu bukan pengonsumsi narkoba, saya kenal dia.” Layla pun membantah perkataan pak polisi itu sambil menangis.

Setelah cukup lama pemeriksaan berlangsung terhadap Layla, dirinya pun mengajukan sebuah permintaan kepada bapak polisi itu.

“Pak bolehkah saya bertemu dengan Reno? ” tanya Layla dengan nada sedikit ragu.

Ibu bisa menemui saudara Reno atau pelaku, setelah ibu sudah dalam keadaan membaik. Ibu bisa datang langsung ke kantor polisi untuk menemuinya.” Pesan sang polisi kepada Layla dan kedua pria itu pun meninggalkan Layla.

Satu minggu pun berlalu, dengan luka yang masih terasa sakit, Layla datang ke kantor polisi. Layla hanya ingin dipertemukan dengan pelaku penembakan terhadap dirinya yaitu Reno kekasihnya
sendiri.

Layla pun diminta untuk menunggu di ruangan khusus. Tak lama polisi pun membawa seorang pria yaitu sang tersangka penembakan ke hadapan Layla sang korban.

Namun, saat dipertemukan dengan Reno, Layla malah menjadi bingung ia malah membantah bahwa orang yang dipertemukan kepadanya itu bukanlah Reno.

Polisi pun menjelaskan kepada Layla bahwa pria yang ada dihadapannya itu adalah tersangka penambakan terhadap dirinya. Dan nama dari pria itu adalah Reno berdasarkan identitas yang pria itu bawa dan berdasarkan pemeriksaan polisi.

Dia bukan Reno pak, saya kenal Reno dan Reno juga tidak mengkonsumsi narkoba.” Tegas Layla kepada polisi.

Siapa kamu? Berani-beraninya mengaku sebagai Reno dan berusaha membunuh janinku.” Tanya Layla kepada pria yang menjadi tersangka itu sambil meneteskan air mata.

Akhirnya pria itu angkat bicara.

Saya hanya pecandu narkoba, saya akan melakukan apapun perintah dari orang yang mampu membayar saya. Ya… saya hanya disuruh menyamar sebagai Reno dan diperintah untuk menembak janin yang sedang mbk kandung.” Pengakuan sang pelaku, sontak membuat semua terkaget temasuk juga polisi yang berhasil di kelabui oleh pelaku penembakan itu.

Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?” tanya Layla dengan membentak dan semakin deras meneteskan air mata.

Dia sendiri!!! Reno…Reno sendiri yang memerintahkannya hahah.” Jawab pria pecandu narkoba itu sambil tertawa.

Polisi pun segera membekuk dan membawanya pergi dari hadapan Layla.

Satu lagi, Reno berpesan bahwa dia tidak akan mengingkari janjinya. Dia tidak akan melukai dirimu sedikit pun dengan tangannya tapi dengan tangan orang lain.” Ucap pria itu sambil tertawa dan diseret oleh polisi untuk di masukan kembali ke penjara.

Mendengarkan hal itu, Layla tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menangis. Hancur sehancur-hancur hatinya seolah hidupnya di dunia selama ini hanya ditipu oleh sebuah janji.

Kekecewaan dalam hati Layla hanya menimbulkan penyesalan yang mendalam.

Dan janin yang ada di kandungannya adalah bukti janji yang menyesatkan.

Luasnya Makna Lampu di Sudut Jalan

Luasnya Makna Lampu di Sudut Jalan

Di sore hari yang masih terasa panasnya sinar matahari

Gubrakkkk…..!!!” tiba-tiba Andi seorang pengendara motor terkapar lemas dan tak berdaya di sisi jalan.

Dia terjatuh dan terpisah dari motornya hingga 7 meter. Matanya masih terlihat sayup-sayup, dia hanya bisa melihat kerumunan kaki mendekati dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa… hingga akhirnya dia pun terlelap.

Andi tersadar dengan rasa sakit di kepalanya, dia pun mencoba membuka matanya. Namun, dia sulit untuk melakukannya.

Kelopak matanya seolah tak menurut lagi dengan keinginannya untuk membuka mata.
“Tenangkan diri anda pak, saat ini anda butuh banyak istirahat…” ujar dokter sambil membenahi kepala Andi yang tergeser dari bantalnya.

Tak banyak yang bisa Andi ingat, namun satu yang pasti dia ingat, gadis kecil dan seorang kekasih yang sudah menunggunya di rumah.

Dia pun berusaha lagi membuka kedua matanya.
Ya… usahanya kali ini berhasil, namun semua yang dia pandang terlihat buram dan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi.
Aaaa…..sakittt sekali….” keluh Andi sambil memegang kepalanya yang di perban.

Tenanglah mas… anda sedang terluka parah karena kecelakaan” dokter kembali mengingatkannya.
Kecelakaan… “ ujar Andi sambil meringis kesakitan dan kembali terpejam.

Dia pun teringat, saat dia melaju kencang dengan motornya walaupun dia melihat bahwa lampu merah masih menyala.

Dia pun teringat, bagaimana kelakson mobil besar berbunyi keras dan mobil tersebut mendekat kearahnya dengan cepat, lalu menabrak dirinya hingga membuatnya terlempar dan terpisah dengan motornya.

Iya pun kembali mengingat kerumunan kaki yang mendekat padanya.

Setelah mengingat apa yang terjadi padanya tangannya gemetar hebat.

Air matanya menetes dan membasahi perban di tangannya itu
Apakah aku masih hidup…?” tanyanya entah pada siapa.

Terlintas di ingatannya, setiap hari ia di sambut gembira ketika pulang kerja oleh anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun dan seorang istri setia nan cantik yang sangat dia sayangi.

Penyesalan seolah sedang mencekiknya.
Luka-luka di kepala, tubuh, tangan, dan kaki seolah meneriaki dan menjerit padanya.

Kenapa….? kenapa….? kenapa….?  kau mengabaikan lampu kecil di sudut jalan yang berwarna merah itu

Dia pun kembali teringat nasihat seorang polisi yang menilangnya minggu lalu karena dia menerobos lampu merah.

Bapak ini tidak punya keluarga atau tidak sayang keluarga. Kalau bapak mengalami hal yang tidak diinginkan bagaimana…? Sayangilah keluarga bapak dengan menjaga keselamatan diri bapak sendiri, kalau bapak menjaga diri sendiri saja tidak bisa bagaimana bapak akan menjaga mereka…?”  nasihat pak polisi sambil menulis di kertas tilang.

Dadanya pun semakin sesak dengan mengingat nasihat pak polisi itu.
Seolah semua catatan pelanggaran miliknya sedang di bacakan oleh rasa sakit yang dia rasakan.
Isak tangis Andi pun semakin menjadi ketika terdengar  suara seorang gadis kecil.

Ayahhh…. “ teriak anak perempuannya yang datang dengan bingung melihat ayahnya terkapar di kasur dengan kepala di perban hingga menutupi satu matanya.

Mas…. kenapa bisa begini….?” tanya sang istri sambil menangis dan langsung memegang erat tangan kanannya yang pucat dan dingin itu.
Saat itu perasaan yang Andi rasakan campur aduk. Sedih, sesal, sakit dan syukur.

Ya…  Andi sangat sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk hidup dan masih bisa memeluk orang-orang yang dia sayangi.
Karena tidak semua penerobos lampu penuh makna itu seberuntung Andi.

Motivasi Dibayar Kopi

Motivasi Dibayar Kopi

Sapu tangan Anisa seolah sudah tak mampu menahan air mata yang terus menetes tanpa henti. Ya… dia baru saja di tinggal pergi oleh ayahnya untuk selama-lamanya.


Kecelakaan ayahnya seolah selalu membayangi dan menghantui pikirannya. Bagaimana tidak, ayah yang selalu ada dan sayang padanya harus meninggalkannya dengan cara mengenaskan.


Namun, Anisa berusaha untuk menghentikan kesedihannya tersebut. Karena Anisa tau bahwa di kantor, dia dilarang untuk bersedih.



Pak Anton adalah bos Anisa di kantor, dia sangat benci sekali terhadap orang yang bersedih. Bahkan dia terlalu sering memecat karyawannya karena ketahuan bersedih.
Itulah alasan mengapa Anisa berusaha untuk menghentikan kesedihannya. Anisa takut jika dia ketahuan bersedih dia akan di pecat dari pekerjaan yang sangat penting baginya itu.
Setelah Anisa mulai bekerja di kantor lagi, banyak teman kerja Anisa yang turut berbela sungkawa, tapi teman-teman Anisa pun menyampaikannya dengan diam-diam tanpa di ketahui oleh sang bos yaitu Pak Anton.
Semua teman Anisa mencoba menutupi kesedihan Anisa, karena semua tau bagaimana sifat sang bos.
Ketika Anisa duduk di meja kerjanya, dia terus mencoba tenang dan masih berusaha menahan air matanya yang tidak mau berhenti menetes.
Tiba-tiba Pak Anton datang dengan mengejutkan, lalu menyapa semua karyawannya.
Pagi semua..!” ucapnya dengan semangat.
Pagi Pak Anton...”  semua menjawab dengan semangat, kecuali Anisa.
Karena Anisa tidak menjawab, Pak Anton pun memperhatikan Anisa dari kejauhan dan dia pun penasaran karena Anisa tidak menjawab sapaannya.

Teman-teman Anisa terlihat tegang karena takut Anisa ketahuan bersedih oleh Pak Anton.
Pak Anton pun berjalan menuju ke arah Anisa yang duduk dan menundukan kepala di atas meja.
Maaf pak, laporan keuangan bulan ini sudah selesai dibuat pak.” ucap Tania untuk mengalihkan perhatian Pak Anton agar tidak menuju ke Anisa.
Usaha Tania berhasil mengalihkan perhatian sang bos.

Tania adalah teman Anisa yang paling dekat jadi dia tidak ragu membantu dan peduli kepada Anisa.

Perlahan bos pun meninggalkan Anisa.
Suasana tegang yang tadi ada kini sudah menjadi lega.


Tapi penasaran Pak Anton terhadap Anisa sangatlah besar.

Itu terbukti karena saat Anisa pulang, diam-diam Pak Anton mengikuti Anisa dari belakang dan terus mengamatinya.
Tapi Anisa mengetahui hal itu, karena itu dia berusaha berjalan lebih cepat.

Pak Anton terus mengikuti  Anisa, namun Pak Anton kehilangan Anisa.



Pak Anton mencoba mencari Anisa di lokasi dimana dia terakhir melihatnya.

Tiba-tiba dari belakang ada seorang yang menegur Pak Anton.

Ada apa ya pak…?” ucap Anisa dengan suara serak.

Pak Anton pun kaget dan berbalik kebelakang.

oh.. a..Anisa…?” ujar Pak Anton sedikit salah tingkah.

Ke..Kenapa bapak mengikuti saya sampai sejauh ini ?” Anisa bertanya dengan nada ragu

Wah… jadi saya ketahuan ya…. heheh” ujar Pak Anton dengan sedikit tertawa…

Karena Pak Anton sudah tertangkap basah mengikuti Anisa. Pak Anton pun mengajak Anisa ngobrol di warung kopi.
Datanglah seorang pria menghampiri meja Pak Anton dan Anisa.

Silakan pak, mbak kopinya” ucap pelayan yang menawarkan kopi

Terima kasih mas…” jawab Pak Anton menganggukan kepalanya.

Maaf ya Anisa saya gak sopan ikutin kamu dari belakang.” ucap Pak Anton membuka percakapan.

Oh,  g..gak apa-apa kok pak..” jawab Anisa terbata-bata.

Pak Anton meminum kopi dengan santainya

Maaf pak,  tapi mengapa bapak mengikuti saya…?” tanya Anisa dengan suara pelan

Sebenarnya saya hanya ingin tau saja, kenapa kamu bersedih.” jawab Pak Anton.

Jadi bapak tau saya sedang bersedih? Apakah saya akan di pecat pak…” tanya Anisa dengan nada agak panik.

Iya, setelah saya tau apa alasan kamu bersedih, sampai-sampai kamu berani membawa kesedihanmu itu ke kantor saya...” ucap Pak Anton dengan nada santai dan sambil meniupi kopi panasnya.

Jadi apa alasan kamu bersedih…?” tanya Pak Anton sambil menunjuk Anisa.
Ayah saya meninggal pak…  tiga hari yang lalu… karena kecelakaan” ucap Anisa sambil menahan air matanya dengan sapu tangan.

Pak Anton pun sedikit kaget dan segera menaruh kopinya di atas meja.

Jadi apakah kamu terus menangis selama 3 hari ini..?” tanya Pak Anton dengan nada pelan.

Iya pak…” jawab Anisa sambil menangis pelan.

Jadi, apakah kamu akan terus menangis seperti ini..?” tanya Pak Anton dengan sedikit menggebrak meja.

Sontak Anisa pun kaget karena hal itu dan di hanya terdiam.

Saya tau benar perasaan kamu, karena saya pun pernah mengalami hal sepertimu… tapi itu dulu waktu saya masih kelas 3 smp...” ucap Pak Anton dengan santai.

Anisa pun sedikit kaget dan coba menatap Pak Anton.

Pak Anton pun kembali menyeruput kopinya.

Iya…, saya dulu di tinggal kedua orang tua saya, saat saya masih kelas 3 smp, kedua orang tua saya meninggal karena musibah tanah longsor.” ucap Pak Anton sambil menaruh kopinya

Jadi saya tau benar perasaan kamu saat ini, tapi kamu takkan pernah tau perasaan saya saat itu.” ucap Pak Anton.

Anisa pun hanya terdiam.

Saya hanya sebatang kara hidup di kampung, hanya sedikit orang yang peduli pada saya. Orang tua saya hanya seorang buruh tani ubi, tak banyak yang mereka tinggalkan untuk anaknya ini. Mungkin saja saya akan mati jika saya dulu tidak bisa memotivasi diri saya sendiri saat itu.” ucap Pak Anton sambil tersenyum.

Pak Anton pun mengeluarkan pulpen dari sakunya, dan menulis diatas selembar tisu lalu Pak Anton memberikan tisu tersebut pada Anisa.

Iya itulah motivasi saya, untuk apa saya terus bersedih semua kesedihan itu tak akan membuat saya menjadi lebih baik.” ucap Pak Anton dengan tegas.

Dengan motivasi itu, saya memulai hidup saya sendiri, mencari makan dan biaya sekolah sendiri dari berjualan ubi bakar. Itu adalah hal yang sangat berat bagi saya, seorang  anak kelas 3 smp yang berusaha bertahan hidup tanpa orang tua dan tanpa kasih sayang.” ucap Pak Anton dengan pandanagan mata yang sedih mengenang masa lalunya.

Anisa pun lagi-lagi hanya terdiam dan mulai berhenti menagis.
Dan saya paling benci, dengan orang yang bersedih hanya karena hal-hal sepele.” tegas Pak Anton yang coba melupakan masa lalunya.

Alasan saya selalu memecat karyawan saya yang bersedih karena mereka itu terlalu cengeng. Mereka bersedih hanya karena  putus cinta, di selingkuhi, di khianati dan bahkan ada yang hanya kehilangan kenangan dari mantannya pun bersedih.  Saya heran mengapa mereka mensia-siakan air mata untuk hal yang tak penting itu..” ucap Pak Anton sambil geleng kepala karena heran.


Itulah alasan saya memecat karyawan saya yang bersedih.” tegas Pak Anton.
Akhirnya Anisa pun mulai sedikit paham dengan bosnya tersebut.


Satu pesan saya buat kamu Anisa…”  ucap Pak Anton menunjuk Anisa


Kamu jangan berfikir kamulah yang paling menderita di dunia ini hanya karena kamu di tinggal ayahmu. Karena di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu… dan kamu seharusnya bersyukur masih banyak orang yang peduli padamu, seperti Tania atau teman-teman kerjamu yang lainnya” pesan dari Pak Anton sambil menghabisakan kopinya.
Anisa pun berdiri dari tempat duduknya.


Terima kasih banyak pak untuk motivasinya” ucap Anisa dengan bersemangat.
Kemudian Pak Anton pun ikut berdiri.

Sudahlah itu hal biasa yang dilakukan oleh seorang boss.. hahaha” ucap Pak Anton sambil tertawa.
Anisa pun hanya tersenyum.



Oh iya…. satu lagi Anisa, tolong kamu bayarin ya kopi saya hehehe, itung-itung buat bayar motivasi dari saya”  bisik Pak Anton sambil berjalan.