Kebencian Gadis Beranak Satu

Kebencian Gadis Beranak Satu

Ini adalah cerpen kelanjutan dari cerpen bukti janji yang menyesatkan. Jadi silakan sobat baca terlebih dahulu cerpen tersebut.

Di pagi hari yang masih berembun, terlihat Layla sedang berjalan dan menikmati pagi di pinggiran kampung yang terletak tak jauh dari kota kecil. Perempuan tersebut menggunakan hijab lebar berwarna merah dan memakai rok panjang berwarna hitam, selayaknya muslimah yang taat.

Layla berjalan di sebelah kiri jalan dan  ia terus berjalan melewati setiap rumah di kampung itu, yang rata-rata masih tertutup pintunya. Di sebuah jalan yang lumayan sempit Layla menemukan suatu hal yang sangat menarik dan menurutnya itu adalah sesuatu yang sangat indah.

Layla melihat bunga yang sangat indah di sebelah kanan jalan. Ia pun berusaha mendekat dan mengamati bunga tersebut.

Ketika ia mendekat, aroma bunga itu sangat wangi. Tak perlu berpikir panjang, Layla pun segera memetik bunga indah nan wangi itu.

Tapi tiba-tiba dari arah berlawanan, datang seorang yang mengendarai motor jadul dengan sangat kencang. Dan Layla yang berdiri di bagian kanan jalan pun akhirnya tertabrak oleh motor jadul yang melaju kencang itu karena Layla tepat berdiri di jalur milik motor itu.

Kecelakaan yang tak bisa dihindari itupun membuat Layla terkapar di jalan dengan luka di bagian betis kiri dan kedua lengannya. Terlihat betis dan lengannya berdarah, raut wajah Layla pun meringis kesakitan, dan di sertai tetesan air mata yang membasahi pipinya.

Layla pun berusaha bangkit dari posisinya yang terkapar itu. Namun ia hanya mampu untuk duduk dan ia belum mampu untuk berdiri. Layla masih merasa kaget dan tegang karena ditabrak oleh motor yang melaju kecang itu.

Sedangkan motor jadul bernama astrea yang menabrak Layla pun terjatuh namun pengendara motornya terlihat baik-baik saja. Lelaki yang mengendarai motor jadul itu pun berusaha membangkitkan motornya. Sebenarnya lelaki itu ingin menolong Layla namun ia terlihat sedang buru-buru karena ia selalu memperhatikan jam tangannya.

Saat mendengar rintihan korban yang ia tabrak, lelaki itu semakin tak tega meninggalkannya begitu saja tapi di sisi lain ia juga sedang terburu-buru. Tak ada yang bisa lelaki itu lakukan selain meminta maaf. Dan ia pun kembali menaiki motornya dan sambil terus meminta maaf.

Layla yang mendengar permintaan maaf berkali-kali itu pun hanya cuek saja, dia tak menggubris lelaki itu. Layla pun berusaha untuk berdiri lagi namun Layla tetap tak mampu berdiri. Usahanya untuk berdiri yang gagal justru membuat luka di betisnya terlihat.

Lelaki itu pun melihat luka di betis Layla. Darah segar dari luka itu mengalir ke kaki Layla yang putih. Lelaki itu panik, ia pun seger menyalakan motor jadulnya. Lelaki yang sedang terburu-buru itu justru berbalik arah dan tidak melanjutkan perjalanannya.

Tiga menit kemudian lelaki itu datang kembali menemui korbannya yaitu Layla. Tapi lelaki itu tidak hanya sendirian, ia bersama seorang perempuan yang umurnya sudah tak muda lagi. Perempuan tua itu berpenampilan khas ibu-ibu rumah tangga ala kampung. Ia berpakaian daster, memakai kerudung dan memakai sendal jepit.

Saat tiba di tempat Layla terduduk, perempuan tua itu segera mengevakuasi Layla ke pinggir jalan yang  sebelumnya terduduk di tengah jalan dengan luka berlumuran darah . Sedangkan lelaki yang menabrak Layla buru-buru menyalakan kembali motornya.

Mak, saya langsung berangkat ya?” ujar lelaki itu kepada perempuan tua yang sedang membersihkan luka Layla.

Loh!! kamu ini gimana sih, mbknya ini dibawa ke rumah kita dulu, obat-obatnya kan ada dirumah semua!” ucap perempuan tua itu dengan nada membentak.

Haduhhh…mak, ini lagi buru-buru, kalau nggak buru-buru udah saya anterin langsung kerumahnnya mak!” Jawab lelaki itu dengan nada cepat. “Lagian rumah kita kan deket mak dari sini, Assalamualikum!!” ucap lelaki itu sambil mengegas motor jadulnya dan dia kembali melanjutkan perjalanannya berangkat ke tempat kerja.

Perempuan tua itupun bingung bagaimana cara membawa Layla kerumahnya. Walaupun rumahnya memang dekat tapi membawa orang yang tak mampu berdiri tetep akan sulit.

Layla yang melihat perempuan tua itu bingung cara membawa dirinya, akhirnya  ia dengan sekuat tenaganya bangkit dari posisi duduknya.

Eeee…mbk jangan berdiri dulu nanti darahnya keluar lagi!” ujar perempuan tua itu sambil memegang lengan Layla.

Nggak apa-apa Bu, saya masih kuat jalan juga kok.” Ucap Layla sambil meringis kesakitan.

Beneran kamu masih kuat buat jalan?” Tanya perempuan tua itu dengan memperhatikan wajah Layla.

Layla pun hanya bisa menjawab pertanyaan perempuan tua itu dengan menganggukan kepalanya, sambil menahan rasa sakit.

Kalau begitu langsung kerumah ibu aja, biar sekalian diobatin.” Ucap perempuan tua itu sambil memegang lengan kiri Layla dan menaruhnya di pundak.

Mereka berdua akhirnya berjalan dengan pelan dan tertatih-tatih menuju rumah perempuan tua itu.

Sesampainya di depan rumah perempuan tua itu, Layla terdiam dan terheran-heran sambil merasakan sakit pada lukanya.

Apakah ini rumah ibu?” tanya Layla sambil melihat wajah perempuan tua itu.

Iya mbk, ini rumah saya. Ya…seperti inilah halamannya, selalu berantakan.” Ucap perempuan tua itu malu-malu sambil melepaskan lengan kiri Layla dan berusaha mendudukan Layla di kursi yang berada di teras rumahnya. “Mbk tunggu di sini dulu ya, saya mau ambil obatnya dulu.” ujar perempuan tua itu sambil masuk kerumahnya.

Layla yang duduk di kursi, hanya bisa merasakan sakit dan merasa terkagum-kagum dengan halaman rumah perempuan tua itu yang di penuhi oleh berbagai macam tanaman hias. Dari tiap sudut halaman rumah itu dipenuhi warna-warni bunga yang membuat Layla merasa sedikit terhibur, karena Layla sendiri sangatlah menyukai bunga.

Halaman rumah saya memang berantakan mbk kalau pagi begini, belum sempet nyapu sayanya.” Ujar perempuan tua itu sambil keluar dari rumahnya dan membawa obat untuk luka Layla.

Oh…tapi kalau halamannya dipenuhi bunga seperti ini tetep indah kok, Bu.” Ucap Layla sambil tersenyum kepada perempuan tua itu.

Maaf mbk ya, saya lihat lukanya lagi, biar saya obati.” Minta perempuan tua itu pada Layla sambil duduk di lantai tepat di depan Layla.

Layla merasa tak enak hati melihat orang yang lebih tua berada di bawahnya, ia segera berusaha turun dari kursi yang ia duduki.

Loh! Loh! Mbknya kok malah turun?” tanya perempuan tua itu pada Layla dan memasang wajah kaget.

Hehe nggak apa-apa, Bu. Enak di bawah, lagian ibukan lebih tua, jadi nggak sopan kalau saya di atas kursi.” Jawab Layla sambil duduk dan menahan sakit.

Heealah, gitu aja kok jadi masalah mbk…mbk.” ujar perempuan tua itu sambil tersenyum malu.

Perempuan itu pun mulai mengobati luka-luka Layla. Terlihat wajah manis Layla mengkerut-kerut karena menahan sakit. Dan perempuan tua itu pun merasa kasihan terhadap Layla.

Oh iya nama mbk ini siapa ya? sampai lupa  kenalan nih.” Tanya perempuan tua itu untuk mengalihkan perhatian Layla agar tidak terlalu merasakan sakit.

Nama saya Layla, Bu” jawab Layla dengan tersenyum dan masih terlihat menahan sakit. “Saya keponakan pak Heri dan Neli. Sudah hampir seminggu saya di sini.” Ucap Layla dengan senyuman masam.

Mendengar jawaban Layla Perempuan tua itu agak sedikit kaget.

Layla ya…saya sendiri biasa di panggil Mak Rani di kampung ini, kalau nama aslinya sih Raniem.” Ucap perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Layla dengan senyuman.

Apakah…ibu sudah pernah mendengar nama saya?” tanya Layla kepada Mak Rani dengan sedikit ragu.

Kalau pernah dengar namanya sih enggak, tapi kalau dengar tentang kamu sih pernah, La. Biasa lah ibu-ibu kampung serba tahu hehehe” Ucap Mak Rani sambil membalut luka Layla dengan kain perban. “Saya yakin kamu pasti orang yang kuat, La. Karena saya sendiri mengalami bagaimana hidup sendiri dan menjadi janda.” Ucap perempuan tua itu sambil menatap mata Layla dengan optimis.

Tapi Bu, sebenarnya saya ini bukan janda Bu, saya belum pernah menikah, Bu.” Dengan berat hati Layla mengucapkan kebanaran tentangnya.

Jadi kamu gadis beranak satu, La.” Ucap Mak Rani dengan sedikit perihatin. “Saya nggak bisa bayangin La, penderitaan kamu dan anakmu selama ini seperti apa.” Ucap Mak Rani menatap Layla dengan melas.

Mungkin itu semua adalah hukuman dan konsekuensi atas perbuatan saya dulu, Bu.” Ucap Layla dengan tertunduk dan tersenyum masam.

Tapi melihat kamu seperti saat ini, saya yakin kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik.” ucap Mak Rani dengan optimis. “Ngomong-ngomong anak kamu laki apa perempuan dan berapa umurnya?” tanya Mak Rani mengubah topik pembicaraan.

Anak saya laki-laki Bu, umurnya 2 tahun.” Jawab Layla dengan sedikit tersenyum.

Akhirnya rumah pak Heri dan bu Neli ada anak kecilnya…kalau ada anak mbk Layla rumahnya bakal ramai ya.” ujar mak Rani dengan nada bahagia.

Ibu Rani sendiri tinggal bersama siapa saja di rumah ini?” tanya Layla yang ingin lebih mengenal Mak Rani.

Kalau saya sih cuman berdua dengan anak laki-laki saya, saya sendiri sudah menjanda sejak anak saya masih SMP. Suami saya meninggal karena penyakit. Sejak ditinggal saya kerja keras buat anak saya satu satunya orang yang saya miliki.” Ucapnya dengan nada agak bersedih. “Tapi sekarang anak saya sudah bekerja. Saya malah dilarang untuk bekerja lagi oleh anak saya.” Ucap Mak Rani sambil membersihkan sisa-sisa kain perban.

Memang anak ibu, kerja di mana?” tanya Layla sambil mengecek perban yang ada di lengannya.

Dia bekerja di toko bunga…Oh iya mbk, saya juga mau minta maaf karena anak saya sudah nabrak mbk Layla. Anak saya kalau lagi buru-buru memang sering kehilangan kontrol.” Jelas Mak Rani sambil meminta maaf.

Sebenernya itu juga bukan sepenuhnya kesalahan anak ibu. Saya juga salah, karena saya berdiri di jalan orang lain, gara-gara saya pingin memetik bunga.” Ucap Layla dengan menyesal.

Apakah kamu juga suka bunga, La?” tanya Mak Rani sambil memandang bunga-bunga dihalaman yang terkena sinar matahari pagi. “Anak saya juga suka bunga, semua bunga yang ada di halaman ini yang menanamnya adalah dia. Setiap di toko ada jenis bunga baru ia selalu meminta satu dari toko tempat ia bekerja.” Jelas Mak Rani sambil membuang sampah sisa-sisa kain perban.

Sejak kecil saya suka bunga, Bu.” Ucap Layla sambil tersenyum melihat Mak Rani yang berdiri di sampingnya. “Lalu siapa nama anak ibu?” Tanya Layla sambil tersenyum kepada Mak Rani.

Anak ibu bernama Reno, sebenarnya dia anak yang baik. Tapi semenjak ditinggal ayahnya, ia sangat sulit di atur dan selalu melakukan sesuatu dengan sesukanya.” Jawab Mak Rani sambil  mengeluhkan sifat anaknya.

Re..re..reno!!!” ucap Layla dengan wajah kaget, dan mengingatkannya dengan seseorang yang sangat ia benci.

Iya, maafkan anak saya ya, La? karena sudah membuat kamu jadi luka-luka seperti ini.” Ujar Mak Rani kembali meminta maaf pada Layla.

Layla pun hanya menganggukan kepalanya dan ia masih membayangkan masa-masa suramnya saat bersama seseorang yang namanya sama dengan anak Mak Rani.

Kenapa ada orang yang namanya sama dengan orang keji seperti dia.

 [irp]

Kakak Sang Perancang Masa Depan

Kakak Sang Perancang Masa Depan

Niva, apakah kamu tahu, kalau tumbuhan putri malu itu mengkuncup saat malam hari?” Tanya seorang laki-laki yang berumur 21 tahun kepada adiknya sambil terlentang di kasur yang bermotif bunga-bunga. “Benarkah, apakah tumbuhan itu juga tidur saat malam hari, Kak?” Tanya adiknya menyambung pembahasan tersebut. “Apakah tumbuhan itu juga sikat gigi sebelum tidur?” tambah adik yang bertanya lagi kepada sang kakak sambil memeluk sebuah boneka kecil dan memandang kakaknya.

EPISODE 1 “OBROLAN MALAM”

Hemmm…mungkin” jawab sang kakak pada adik perempuannya yang berumur 5 tahun.

Apakah duri-duri itu gigi mereka, kak?” tanya adiknya lagi.

Tidak Niva, gigi bunga putri malu adalah akarnya.” jelas sang kakak.

Ooo…benarkah?” jawab sang adik dengan wajah polosnya yang sangat imut.

Niva, kamu belum mengantuk?” Tanya sang kakak pada adiknya agak berbisik.

Belum!” Jawab sang adik dengan singkat.

Kakak kan sudah bercerita dari 2 jam yang lalu, kenapa kamu belum mengantuk?” Tanya sang kakak dengan nada putus asa untuk menidurkan sang adik.

Cerita kakak bagus!” Ujar sang adik dengan tersenyum lebar. “Ayo kak cerita lagi!” pinta sang adik pada sang kakak.

Biasanya ibu bercerita apa kalau kamu mau tidur?” tanya sang kakak penasaran. “Apakah cerita ibu lebih bagus dari cerita kakak?” tambahnya lagi bertanya.

Cerita ibu juga bagus, ibu selalu bercerita kelinci-kelinci yang ibu miliki dulu, waktu ibu masih kecil. Tapi ibu selalu saja menyuruhku menghitung kelinci-kelinci yang ibu miliki.” Ujar sang adik yang memberi tahu sang kakak.

Apakah kelinci-kelinci yang ibu ceritakan ada yang sakit, lalu kelinci itu disuntik oleh dokter?” Tanya sang kakak pada adiknya.

Benar!!, kelinci itu langsung sehat setelah disuntik oleh dokter, Kak. Kata ibu, dokter itu sangat baik.” Ujar sang adik dengan raut wajah yang semangat.

Benarkah?” tanya sang kakak dengan muka masam dan menelan ludah.

Iya Kak, besok kalau Niva sudah besar, Niva mau jadi dokter biar bisa sembuhin orang sakit.” Ujar sang adik dengan wajah sangat gembira.

Kenapa kamu nggak sembuhin kelinci-kelinci yang sakit?” Tanya sang kakak.

Kata ibu, sembuhin orang sakit lebih baik.” Ujar sang adik. “Tapi kak, kenapa kak bisa tahu cerita ibu?” Tanya sang adik.

Dulu waktu kakak masih kecil sepertimu, ibu juga sering bercerita kepada kakak.” Ujar sang kakak sambil tersenyum pada sang adik.

Benarkah, apakah kakak juga selalu mengantuk jika menghitung kelinci-kelinci yang ibu miliki dulu?” tanya sang adik sambil menatap sang kakak.

Benar Niva, kakak selalu bosan saat menghitung kelinci yang ibu miliki?” Jawab sang kakak sambil menguap, sampai membuat matanya berair.

Kak!” panggil sang adik.

Ya, Niva?” jawab sang kakak sambil melihat adiknya.

Ternyata kakak juga bisa bercerita seperti ibu ya. Kirain Niva, kakak cuma bisa duduk di depan komputer dan membaca buku yang bertumpuk–tumpuk di meja kakak.” Ujar sang adik yang kagum pada kakaknya.

Oh ya, apakah kamu sering melihatku sedang membaca buku?” Tanya sang kakak dengan bahagia.

Ya!” jawab sang adik. “Tapi kak, apakah Niva bisa bercerita seperti kakak dan ibu?” tanya sang adik dengan memandang kakaknya serius.

Ya, tentu saja. Kamu pasti bisa bercerita seperti kakak dan ibu.” Ucap sang kakak sambil memberi semangat pada sang adik.

Tapi aku mau bercerita apa kak?” tanya sang adik  memperlihatkan wajah bingung yang sangat polos dangan menempelkan telunjuknya di dagu.

Hemm… kamu bisa bercerita, siapa saja yang kamu temui hari ini.” Ucap sang kakak.

Aku…hari ini bertemu banyak orang kak. Di rumah mbok Imah banyak sekali orang yang aku temui.” Jawab sang adik dengan semangat.

Oh…mbok imah ya.” ucap sang kak sambil memikirkan suatu hal. “Bisakah kamu ceritakan berapa orang yang kamu temui di rumah mbok imah.” Ucap sang kakak menyuruh adiknya.

Perlahan tapi pasti, gadis kecil itupun mulai tertidur dengan suara yang sedang menghitung, dan perlahan suaranya menghilang. Sang kakak pun memandangi adiknya dengan wajah yang bahagia, namun air mata sang kakak juga menetes. Tapi yang jelas itu adalah air mata kebahagiaan.

Hari pun mulai mendekati tengah malam. Terdengar pintu rumah ada yang mengetuk dari luar. Lalu pintu itu pun terbuka karena pintu rumah itu tidak dikunci. Masuklah seorang perempuan berjaket memakai jilbab dan menyangklong sebuah tas.

Revan” ucap perempuan berjilbab itu memanggil anaknya.

Lalu keluar seorang laki-laki dari kamar dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan.

Iya bu, ada apa?” tanya laki-laki itu pada ibunya sambil menuju ke ruang makan.

Apakah adikmu sudah tidur?” tanya ibu sambil meletakan jaket dan tasnya di atas meja.

Sudah bu, baru saja Niva tidur.” ujar Revan kepada ibunya. “Lalu bagaimana dengan keadaan mbok imah bu, apakah beliau sudah membaik?” tanya Revan dengan membawakan segelas air minum hangat untuk ibunya.

Ya, mbok imah membaik setelah anaknya sudah berkumpul semua.” Jawab sang ibu sambil menerima air hangat yang Revan bawakan.

Heh… sudah kuduga, dokter-dokter itu hanya berbual saja menentukan umur manusia.” Ujar Revan menunjukan bahwa ia tidak suka terhadap dokter.

Sang ibu pun memandang Revan dengan wajah melas sambil duduk di sofa.

Oh iya, bagaimana Niva bisa tidur?” Tanya sang ibu mengganti topik pembicaraan. “Biasanya dia tidak akan bisa tidur jika bukan ibu yang bercerita untuknya.

Sudah 2 jam lebih aku bercerita bu, bukannya mengantuk dia malah minta diceritakan lagi.” Ujar Revan terheran-heran.

Haha.. seperti dirimu dulu, Niva juga sangat suka mendengarkan cerita.” Ujar sang ibu sambil tersenyum dan meletakan gelasnya. “Sepertinya Niva akan hobi membaca seperti dirimu, van.” Ucap sang ibu sambil memandang Revan dengan optimis.

Benarkah?” tanya Revan yang duduk di samping ibunya.

Tentu.” jawab sang ibu dengan yakin.

Kalau begitu, apakah ibu bisa melakukan sesuatu untukku?” tanya Revan dengan tersenyum.

Untuk apa, Revan?” ucap sang ibu balik bertanya dan memandang Revan dengan penasaran.

Bisakah ibu menjaga Niva untukku?” minta Revan pada sang ibu.

Tanpa kamu minta pun, ibu akan menjaganya Revannn!!!” ucap sang ibu sambil memegang kepala Revan dan mengacak-acak rambutnya yang tipis.

Revan dan ibunya pun mengobrol hingga benar-benar larut malam. Tak terasa, obrolan mereka di malam itu juga mengundang air mata yang membasahi pipi mereka. Yang pasti air mata itu adalah air mata bahagia walaupun hati mereka tak ikhlas.

EPISODE 2 “RASA INGIN TAHU NIVA”

Pagi yang cerah bagi seorang Niva. Gadis berjilbab sederhana dan menggunakan kacamata yang seolah membuktikan bahwa dirinya adalah gadis paling cantik diantara gadis-gadis di sekolahnya. Gadis berumur 17 tahun itu adalah siswi SMA kelas 2.

Sebuah kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan saat jam istirahat yaitu membaca sebuah buku. Di temani satu botol air minum dan duduk di antara teman-temannya yang mengobrol dengan asiknya. Ia tak sedikit pun merasa terganggu. Karena dia dan buku seperti sudah terhubung secara batin.

Ya, hobi gadis itu adalah membaca. Sudah tak terhitung berapa buku yang pernah ia baca. Dari sekian banyak buku yang ia baca ada beberapa buku yang sangat spesial bagi dirinya.

Yaitu ada 5 buku yang menurutnya spesial. Kelima buku tersebut Niva miliki ketika ia berumur 10 tahun. Dan buku-buku tersebut tidak lain adalah buku milik kakaknya.

Niva sangat mengistimewakan kelima buku tersebut karena kelima buku tersebut pernah dibaca dan sangat disukai oleh kakaknya. Selain itu, buku-buku tersebut adalah satu-satunya warisan dari kakak Niva yang bernama Revan.

Revan meninggal tepat 2 hari setelah mengobrol dengan Niva saat Niva masih berusia 5 tahun. Saat itu Niva belum mengerti apa arti dari sebuah kematian. Yang ia tahu dulu kakaknya yang pergi dan ditutupi rapat dengan kain putih, lalu kakaknya dibawa oleh banyak orang menuju kesuatu tempat yang Niva tidak ketahui.

Tapi kini Niva sudah menjadi seorang remaja yang sangat cerdas, bahkan melebihi kakaknya.

Di usianya yang sudah 17 tahun bahkan akan menginjak usia 18 tahun, Niva belum mengetahui apa sebab kakaknya meninggal.

Dan hal itulah yang membuat Niva mempunyai banyak pertanyan tentang kakaknya. Tapi ibu Niva selalu saja mengelak ketika Niva bertanya tentang kakaknya terutama tentang kamar kakaknya yang sama sekali belum pernah Niva masuki.

Tapi dari semua keanehan yang ia dapati itu, ada satu hal yang sangat mengganggu dirinya yaitu tentang kelima buku kakaknya itu.

Dari bnayak buku yang Niva baca, setiap buku selalu menyertakan biografi atau cuplikan tentang penulis bukunya. Tapi di kelima buku milik almarhum kakaknya itu, tidak ada satu kalimat pun tentang sang penulis.

Di buku itu hanya tertulis nama dari penulis kelima buku tersebut yaitu Art Naver. Saat Niva berusaha mencari tahu tentang penulis tersebut di internet tak satupun Niva menemukan profil dari penulis itu.

Niva sudah beberapa kali ingin menanyakan pada ibunya tentang siapakah penulis kelima buku itu, tapi Niva tidak berani. Karena ia takut ibu tidak mau memberitahunya dan malah mengelak lagi.

Tapi pada suatu malam tepatnya setelah makan malam bersama keluarga yang terdiri dari Niva, ibu dan ayah. Niva berusaha memberanikan diri untuk bertanya pada ibu dan ayahnya.

“Ibu…” ucap Niva memanggil ibunya dengan suaranya yang sangat lembut.

Iya Niva, ada apa?” jawab sang ibu semabari membereskan meja makan. “Katakanlah!” tambah sang ibu yang membuat Niva sedikit kaget dan memandang ibunya.

Apakah ibu tahu apa yang akan aku tanyakan?” tanya Niva lagi-lagi dengan suara lembutnya sambil melihat sang ibu dengan heran.

Tidak!” jawab sang ibu dengan tersenyum. “Cepatlah bertanya sebelum ibu tertidur karena mendengar suaramu yang lembut itu.” ujar sang ibu meledek Niva yang membuat sang ayah tertawa.

Kamu sudah besar Niva, bahkan besok pagi kamu sudah berumur 18 tahun. Jadi kamu tak perlu takut untuk bertanya, yakinlah dengan pertanyaanmu.” Ucap sang ayah kepada Niva sambil tersenyum.

Mendengar ucapan ayahnya Niva pun segera bertanya tentang siapa Art Naver.

Apakah ayah dan ibu tahu siapakah Art Naver?” tanya Niva dengan terbata-bata. “Maksudku orang yang menulis kelima buku yang kakak wariskan padaku.” Ucap Niva memperjelas pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan itu dari anak gadis mereka, ayah dan ibu hanya saling memandang. Ibu yang akan berjalan menuju dapur pun berhenti lalu kembali kemeja makan dan duduk di kursi tepat di samping Niva.

Niva, ibu tidak begitu banyak tahu tentang apa yang dibaca oleh kakak mu dulu.” Ucap sang ibu dengan memandang mata Niva yang tertutupi oleh kacamata. “Apalagi tentang siapa itu Art Naver.” Ujar sang ibu sambil tersenyum dan memandang sang ayah.

Apakah kamu sudah mencoba mencarinya di internet?” Tanya sang ayah pada Niva.

Sudah ayah, tapi aku tak menemukan apapun tentang penulis itu.” Jawab Niva dengan nada kecewa. “Apakah mungkin kakak juga tidak tahu tentang penulis buku-buku itu.” Ucapnya dengan nada bingung.

Niva, sebenarnya kakak mu, tidak hanya memberikan 5 buku itu saja.” Ujar sang ibu sambil menuju ke kamar kakak untuk mengambil sesuatu.

Saat keluar dari kamar sang kakak, ibu membawa sesuatu.

Sebenarnya ini adalah kado ulang tahun mu ke 18 tahun dari kakakmu. Bahkan ia telah menyiapkanya khusus untukmu.” Ucap sang ibu sambil memberikan bingkisan yang berbentuk seperti buku. “Karena malam ini kamu masih berumur 17 tahun, ibu harap kamu membuka kado ini besok pagi, ketika kamu sudah berumur 18 tahun, Niva.” Ujar sang ibu sambil mencubit dagu Niva.

Tapi bu, bagaimana mana mungkin kakak menyiapkan kado ini, kenapa seolah dia tahu bahwa dia akan pergi. Apakah kakak meninggal karena suatu penyakit?” Tanya Niva sambil meneteskan air.

Dia hanya berpesan padaku, bahwa kamu akan mengetahuinya setelah membaca buku keenam yang ia miliki.” Ucap sang ibu yang berurai air mata.

Kenapa ibu tidak mengataknya saja padaku sekarang?” tanya Niva sambil menangis tersedu-sedu.

Tidak Niva, tidak! Itu semua permintaan kakakmu!” Jawab sang ibu sambil mengingat saat-saat Revan menitipkan kado untuk ulang tahun adiknya di masa depan.

Niva pun hanya memandangi kado dari kakaknya itu dan membasahinya dengan air mata.

Sang ayah yang melihat kedua perempuan itu menagis, lalu memeluk keduanya dengan sangat erat. Terlihat mata sang ayah memerah, namun sang ayah tak mampu untuk ikut menagis.

EPISODE TERAKHIR “BUKU TERAKHIR”

Pagi itu jam menunjukan pukul 4, seperti biasa Niva sudah pergi melangkahkan kaki bersiap untuk segera melaksanakan solat subuh.

Tak ada yang bisa menghalangi ataupun menggoda Niva saat akan melaksanakan sholat subuh. Bahkan rasa penasarannya terhadap kado dari almarhum kakaknya itu tidak dapat menggoyahkan niatnya untuk segera sholat subuh.

Setelah selesai sholat subuh biasanya Niva akan bergabung dengan ibunya di dapur. Tapi tidak untuk pagi itu. Memang Niva mampu menahan rasa penasaran tentang isi kado itu demi sholat. Tapi ia tidak mampu untuk menahan penasarannya hanya karena membantu ibu memasak. Karena ibu juga pasti akan memaklumi Niva.

Di kamarnya, Niva baru saja selesai bersih-bersih. Terlihat matanya selalu memandang ke bingkisan yang berwarna hijau itu. Dia pun mengambil bingkisan tersebut yang berada di dekat bantal tidurnya. Tangan yang lembut itu akhirnya memegang kado yang sejak semalam di basahi oleh air mata, dan sebentar lagi kado itu akan segera di buka.

Setelah memandangi kado itu cukup lama sambil menebak-nebak isinya, Niva pun segera membukanya, tapi membukanya pun ia tidak sembarangan. Niva tak ingin merusak sedikit pun kado dari kakaknya itu. Perlahan tapi pasti kado itupun terbuka dengan sempurna tanpa sebuah sobekan sedikit pun, walaupun ada itu hanya bekas menggunting saja.

Setelah terbuka, ternyata Niva justru tidak begitu kaget dengan isi kado itu karena Niva sudah menduga bahwa kado dari kakaknya itu adalah buku. Dan buku itu adalah buku ke-6 yang kakaknya berikan. Walaupun Niva sudah menduganya bahwa isinya buku tapi Niva tetap penasaran buku tentang apa itu.

Buku itu berjudul “Duri Kecil” dan tertulis juga nama penulis buku itu yang lagi-lagi penulisnya adalah Art Naver. Tanpa berpikir panjang Niva pun segera membaca buku itu.

Buku itu tidak jauh berbeda dari buku-buku sebelumnya. Tentu saja karena penulisnya masih sama. Di buku hadiah ulang tahun ke-18 Niva itu mengkisahkan seorang anak laki-laki yang bahagia bersama keluarganya. Namun kebahagian itu mulai pudar ketika anak kecil itu mengidap penyakit. Semua keluarganya hanya bisa pasrah. Anak kecil itu merasa bahwa dirinya adalah duri kecil yang hanya merepotkan keluarganya.

Setelah selesai membaca buku yang tak terlalu tebal itu tiba-tiba Niva menemukan sesuatau yang sebelumnya belum pernah ia temukan di 5 buku warisan kakak. Apakah itu? Tentu saja itu adalah tentang riwayat penulis. Di buku itu terdapat informasi tentang Art Naver.

Art Naver adalah julukanku sebagai penulis. Dari nama julukanku cukup kamu balik kata kedua, lalu tambahkan huruf “a” pada kata pertama maka itulah nama asliku. Hanya dari kamarku kamu akan tahu tentang diriku.

Setelah Niva membaca sedikit tentang Art Naver, Niva sadar selama ini buku yang ia baca, buku yang ia istimewakan dan buku warisan dari kakaknya itu tidak lain adalah karya dari kakaknya juga yaitu Revan yang bernama lengkap Arta Revan .

Niva terkejut dan tak pernah berpikir bahwa nama itu akan menjadi nama kakaknya jika di balik. Ia merasa dirinya terlalu terkecoh oleh karya kakaknya. Memang sebelumnya Niva hanya fokus mencari informasi tentang Art Navar tanpa berpikir ada sebuah teka-teki pada nama itu.

Karena teka-teki itu Niva benar-benar penasaran tentang kakaknya yang sudah menulis ke-6 buku itu. Ia ingin segera melihat kamar Revan dan ingin lebih tahu banyak tentang kakaknya itu.

Gadis itu tahu, kepada siapa dia harus bertanya kunci kamar kakaknya dan meminta izin untuk memasukinya. Ya, tentu saja kepada sang ibu.

Ibu! Ibu!” kata yang terucap dari mulut Niva sambil berlari mencari ibunya.

Setelah menemukan ibunya yang sedang menjemur pakaian. Niva segera berlari dan memeluk sang ibu sambil membawa buku ke-6 milik kakaknya.

Aku mohon bu! Izinkan aku masuk ke kamar kakak.” Ucap Niva sambil meneteskan air matanya, dan terdengar suara Niva yang lembut sambil menahan tangisnya.

Apakah kamu sudah selesai membaca buku itu?” tanya sang ibu sambil melepas pelukan Niva dengan lembut dan memandang kacamata Niva yang basah karena air mata.

Niva pun hanya menganggukan kepalanya saja sambil tetep menahan tangis.

Bawalah kunci ini dan jaga baik-baik!” ucap ibu sambil memberikan kunci kamar Revan. “Perlu kamu tahu Niva, ibu selalu membawa dan menjaga kunci ini kemana pun ibu pergi karena ibu tak mau mengecewakan kakakmu. Aku selalu melarangmu masuk ke kamar itu karena itu permintan Revan. Ia meminta agar kamu masuk setelah umur 18 tahun dan kamar itu juga adalah warisan darinya untukmu.” Ujar ibu sambil membayangkan Revan saat menitipkan kunci kamarnya.

Satu lagi Niva, kamu boleh menggunakan apapun yang ada di kamar itu, tapi tolong…kamu harus mengembalikannya seperti posisi semula. Karena selama ini ibu hanya membersihkan kamar itu tanpa merubah posisi satu benda pun. Jadi biarkanlah kamar itu tetap seperti saat terakhir Revan meninggalkannya.” Ucap sang ibu sambil menahan tangisnya.

Niva yang mendengarkan penjelasan sang ibu langsung memeluk ibunya lagi.

Mulai sekarang biarkan Niva yang merawat kamar kakak Revan bu.” Ujar Niva dengan tetap memeluk sang ibu dan sudah berhenti dari tangisannya.

Setelah itu Niva pun segera menuju ke kamar kakaknya. Kamar yang selama ini hanya pintu saja yang dapat ia lihat, tapi kini ia akan memasuki dan mengetahui segala isinya. Ia berharap akan mengenal kakaknya lebih jauh lagi setelah mengamati kamar itu.

Kini Niva sudah di depan pintu. Perasaannya campur aduk, dan ia bingung untuk mengekspresikannya. Kali ini Niva sudah berhasil membuka pintu kamar itu. Saat membuka pintu itu Niva mendengarkan suara.

Suara itu adalah suara pintu yang sudah tua. Walaupun pintu itu sebenarnya masih terlihat bagus.

Saat Niva mengalihkan perhatiannya dari pintu yang bersuara itu, ia benar-benar dikagetkan dengan kamar kakaknya walaupun ia belum menyalakan lampu di kamar itu. Dalam kegelapan kamar itu Niva dapat melihat lemari besar yang terbuat dari kayu dan pintu lemari itu terbuat dari kaca. Niva menduga itu adalah tempat untuk menempatkan buku-buku milik kakaknya.

Setelah Niva menyalakan lampu kamar kakaknya. Niva tahu dugaannya itu benar, tapi jumlah buku di lemari itu benar-benar di luar dugaan Niva karena di lemari besar itu banyak sekali buku dan lebih banyak dari yang pernah ia baca. Niva pun segera mengamati lemari berisi buku tersebut.

Setelah mengamati lemari itu, tiba-tiba Niva penasaran dengan bagian pojok dari kamar kakaknya yang tepat bersebelahan dengan lemari buku. Ya, di pojok kamar itu terdapat komputer jadul yang tidak lain adalah komputer yang dulu digunakan oleh kakak Niva. Niva pun menuju ke komputer itu.

Saat mengamati komputer itu, tiba-tiba Niva melihat hal yang lebih menarik lagi. Terlihat ada peralatan menulis yang sangat lengkap yang di tempatkan di keranjang kecil. Di samping keranjang peralatan menulis itu terdapat sebuah buku. Di sampul buku tersebut terdapat tulisan “Buku terakhir”.

Dengan ragu-ragu Niva berniat membuka buku itu. Saat ia menyentuh buku itu tiba-tiba Niva teringat pesan ibunya bahwa ia harus mengembalikan posisi benda apapun yang digunakan olehnya ke posisi semula. Karena hal itu, Niva pun mengamati dan berusaha mengingat-ingat posisi buku itu sebelum ia membukanya.

Setelah itu ia segera membuka sampul buku berwarna putih tersebut. Terdapat tulisan tangan di balik sampulnya.

Assalamualaikum

Hai Niva, kakak harap kamu membaca tulisan ini saat kamu berusia 18 tahun. Aku yakin di usiamu yang ke-18 tahun kamu adalah seorang gadis yang sangat cantik dan aku juga yakin kamu pasti paling cantik dia antara teman-temanmu. Karena aku tahu dari kecil kamu memang cantik Niva.

Ibu berkata padaku bahwa kamu mirip denganku, dan kamu akan suka membaca sepertiku. Aku sangat senang saat ibu berkata seperti itu. Dan aku berharap kamu juga bisa menjadi dokter seperti yang kamu inginkan. Walaupun aku sendiri sangat tidak menyukai dokter. Tapi setelah kamu mengatakan ingin menjadi dokter, mulai saat itu aku berusaha menyukai dokter, Niva.

Maafkan aku Niva, aku tak bisa mendampingi masa pertumbuhanmu. Aku menderita kanker otak stadium akhir. Dan aku divonis akan segera meninggalkan dunia oleh dokter yang seenaknya sendiri menentukan hidupku.

Aku benar-benar tak percaya lagi pada dokter ketika mbok Imah sembuh selayaknya ketika beliau sehat setalah anak-anaknya menjengung beliau. Padahal mbok Imah sudah diperkirakan akan meninggal dalam jangka waktu 8 jam oleh dokter.

Tapi perkiraan dokter-dokter itu juga tidak sepenuhnya salah karena ketika mbok Imah selesai membagi harta warisan kepada anak-anaknya beliau akhirnya meninggal dunia. Dan saat itu juga aku tak lagi menganggap remeh vonis dari dokter untuk diriku.

Belajar dari mbok Imah, aku pun memanfaatkan sisa hidupku untuk menyiapkan kado ulang tahun ke-18 mu. Dan maaf, aku hanya bisa memberikanmu ke-6 buku dan kamarku itu sebagai kado atau bisa juga kamu sebut sebagai warisan. Dan buku ini adalah buku ketujuku atau buku terakhirku yang aku wariskan padamu juga. Karena ketuju buku karyaku adalah salah satu hartaku yang sangat berharga setelah dirimu, ayah dan ibu.

Dan titip salamku untuk ayah dan ibu, terima kasih telah memenuhi permintaan-permintaan terakhirku.

Selamat ulang tahun ke 18 Arta Niva, aku akan selalu menyayangimu sama seperti saat kamu masih kecil.

Wassalamualaikum.
Salam terakhir
Arta Revan

Tak ada yang bisa dilakukan oleh Niva selain menagis dan menagis. Dia hanya terduduk lemas di kasur sang kakak dan tak pernah menyangka sang kakak akan meninggalkan pesan yang jauh-jauh hari di siapkan khusus untuk dirinya.

Niva pun berusaha untuk membaca buku terakhir kakaknya itu. Dengan menangis tersedu-sedu ia tetap membacanya dan membasahi tiap halaman buku itu dengan air mata.

Buku terakhir yang ditulis kakaknya itu bercerita tentang hari-hari terakhir sang kakak bersama Niva yang masih kecil.

Sejak saat itu Niva menganggap kakaknya sebagai penulis terhebat karena mampu merancang sebuah masa depan.

SELESAI

Kebenaran Sang Gadis Desa

Kebenaran Sang Gadis Desa

Terlihat seorang pemuda yang berusaha nyaman untuk tidur di sebuah sofa. Pemuda tampan berkumis tipis itu sedang bermalas-malasan. Karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh dari kota ke desa. Bersama rombongan keluarga kecilnya. Ia berlibur ke kediaman bibinya yaitu adik perempuan dari ayahnya.

Merasa lelah adalah hal pasti, karena perjalanan dari kota ke desa membutuhkan banyak energi. Ya, walaupun menaiki mobil tetep saja sangat melelahkan.

EPISODE 1 “ITUKAH GADIS DESA”

Di sebuah desa yang sangat jauh dari hingar bingar suasana bising kota. Edo hanya berdiam diri dan menunjukan wajah kusutnya yang menandakan perasaanya sadang kesal di pagi yang cerah itu.

Entah hal apa yang membuatnya menjadi kesal jika pergi ke desa, tapi satu hal yang jelas menjadi masalah bagi Edo yaitu tidak adanya sinyal di desa.

Ya, itulah satu-satunya masalah besar yang sedang dihadapi Edo. Ia terlihat seperti orang bingung jika tiada sinyal untuk hp ataupun laptop miliknya.

Tentu saja menjadi masalah besar bagi Edo karena ia adalah pemuda yang sangat aktif di media sosial. Dia akan merasa tertinggal jika ia tak membuka akun media sosialnya.

Dirumah bibinya Edo hanya duduk dan tiduran saja tanpa ada kegiatan yang bisa ia lakukan.

Edo, kamu nggak mau jalan-jalan keliling desa.” Tawar sang bibi sambil tersenyum.

Emang di desa ada apaan Bi?” Tanya Edo sambil memajukan bibir bawahnya.  “Palingan cuman pemandangan doangkan. Kalau cuma pemandangan, di taman kotaku juga bagus tamannya. Malah lebih indah dengan gadis-gadis cantiknya.” Ujar Edo.

Masa sih?” tanya bibi sambil menurunkan satu alisnya. “Kalau di sini, soal gadis cantik nggak kalah loh, Do.”  Ujar bibi dengan nada menggoda.

Tetep kalah cantiklah sama yang di kota, gadis kota jelas lebih pinter make upnya.” Tegas Edo menyakinkan sang bibi bahwa gadis kota lebih cantik dari gadis desa.

Aduhh… aduh… gadis kota musti make up dulu buat cantik. Kalah dong sama gadis desa yang cantik tanpa harus pake makup.”  Jelas sang bibi.

” Edo hanya terdiam mendengar pendapat sang bibi.

Edo pun berusaha bangkit dari posisi duduknya. Dan dia keluar menuju halaman rumah sang bibi yang penuh dengan bunga.

Edo mau ke mana?” Tanya bibi dengan nada agak bertriak dan kepo.

Mau lihat-lihat bunga di sekeliling desa!”. Ucap Edo balas bertriak kepada bibinya dari kejauhan.

Ngapain keliling desa, lagian bibi sudah koleksi semua bunga yang ada di desa ini.” Ucap bibi yang menyusul ke depan pintu rumah dan melihat Edo mulai berjalan ke jalan desa.

Di tempat bibi sempit tamannya.” Jawab Edo sambil tersenyum dan berjalan santai.

Terserahlah, hati-hati ya!. Nanti kalau kesasar tanya saja ke orang, di mana rumah bi sopiah!” Jelas sang bibi dengan nada agak khawatir.

Edo pun berjalan santai dan berniat untuk keliling desa. Tapi bukan untuk melihat atau mencari  tanaman bunga melainkan mencari bunga desa.

Setelah beberapa kali bertemu orang di jalan namun dia sama sekali tidak menemukan satu gadis pun di desa itu.

Edo terheran-heran karena di pagi secerah itu ia tak menemukan seorang gadis pun. Berbeda dengan di kota. Jangankan pagi, malam pun gadis-gadis banyak yang berkeliaran. Edo merasa kecewa dan menyesal tak bisa menemui satu gadis pun di desa itu.

Tau begini mending tidur saja tadi. Buang-buang waktu banget.”. Ujar Edo kecewa berat.

Edo akhirnya berbalik arah untuk pulang. Saat berbalik, Edo berpapasan dengan  motor  besar yang dikendarai oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan membonceng  seorang gadis cantik dibalut jilbab coklat. Mata gadis itu terlihat indah dengan hidungnya yang sedikit pesek namun kulitnya begitu putih dan  bersih tanpa make up, dan benar-benar khas seorang gadis desa.

Gadis desa itu pun tak sengaja melihat Edo berdiri di jalan, dan gadis itu memandang Edo dengan tatapan lembut lalu sedikit menganggukkan kepalanya, menandakan sedang menyapa Edo.

Saat melihat gadis itu menyapa, Edo hanya memikirkan satu hal. Yaitu betapa cantik sekali gadis berjilbab coklat itu. Edo pun hanya menga-nga melihat gadis desa yang pertama ia lihat di desa itu . Namun pandangan Edo terhenti ketika laki-laki yang membonceng gadis itu menoleh ke arah Edo.

Apakah itu suaminya?” Tanya Edo dalam hati. Dan tampak ia masih penasaran pada perempuan cantik itu.

Ia pun segera pulang untuk bertanya banyak hal kepada bibinya. Sambil berjalan pulang Edo terheran-haran dan tak pernah menyangka ia akan bertemu dengan gadis secantik itu. Tapi Edo juga penasaran siapakah laki-laki yang memboceng sang gadis cantik itu. Apakah laki-laki itu sumainya?

EPISODE 2 “PEMALUNYA SEORANG BUNGA DESA”

Sesampainya di depan rumah, Edo segera mencari sang bibi. Namun, belum juga mulai mencari, Edo malah dipanggil oleh bibinya yang berada di taman sekaligus kebun sayur di depan rumah bibi.

Edo,  puas nggak lihat bunga di sekitar desa?” tanya sang bibi sambil memetik cabe.

Nggak puas bi, justru sangat mengecewakan!” jawab  Edo sambil menghampiri sang bibi.

Loh kok mengecewakan sih, bukannya di desa bunganya bagus-bagus.” Ujar bibi sambil menatap Edo dengan wajah bingung.

Kalau soal bunga memang bagus, bi. Tapi kenapa, di desa ini nggak ada gadis sama sekali ya?” tanya Edo kepada bibinya

Loh sebenernya kamu mau lihat bunga atau mau melihat gadis desa?” Ujar bibi balik bertanya pada Edo. “Lagian kalau di desa, jam pagi seperti ini mah nggak bakal ada gadis main atau keluar rumah. Karena mereka sedang sibuk beres-beres rumah. Jadi gadis desa jangan kamu samain dengan gadis kota.” Jelas bibi pada Edo.

Tapi bi, aku tadi sempet di sapa sama gadis cantik di jalan! Cantikkk sekali gadis itu pakai jilbab, bibi tahu nggak namanya?” tanya Edo pada bibi dengan nada kepo.

Gimana bibi bisa tau namanya, di desa ini hampir semua gadis pake jilbab Edo, gadis berjilbab mana yang kamu maksud?” Tanya bibi sambil memasukan cabe yang baru dipetik ke dalam bungkusan yang terbuat dari koran bekas.

Gadis itu dibonceng laki-laki tegap pake motor gede, bi. Gak tahu deh, laki-laki itu kakak atau suaminya.” Ujar Edo dengan nada ragu.

Ooh, kalau gadis itu bibi tahu.” Ujar bibi sambil menganggukan kepalanya. “Laki-laki itu kakaknya, bukan suaminya. Memang gadis itu selalu dikawal terus oleh kakaknya.”  Ucap bibi memberitahu Edo. “Terus kenapa kamu tanya soal bunga desa itu? Atau kamu naksir ya sama gadis itu.” tanya bibi dengan nada menggoda.

Apaan sih bi, ngada-ngada aja.” Ujar Edo dengan malu-malu. “Tapi bi, memang beneran dia bunga desa di desa ini.” Tanya Edo dengan semangat.

Iya, dia gadis yang sangat baik, pintar, patuh pada orang tua, sholehah dan dia gadis paling cantik di antara gadis-gadis cantik di desa ini. Jadi pantas gelar itu diberikan kepadanya” Jelas bibi pada Edo yang mendengarkan dengan seksama dan seperti sedang menghayalkan sesuatu.

Tapi lebih baik kamu nggak usah mengharap gadis itu deh.” Saran bibi kepada Edo yang sedang melamun dan tak mendengar saran tersebut. “Heh, dibilangin malah ngelamun?” tegur sang bibi sambil tersenyum dan memecah lamunan Edo.

Bibi minta tolong, antarin cabe ini ke warung, kamu bisakan?” ucap sang bibi meminta tolong kepada Edo.

Oh… bisa bi!” jawab Edo dengan semangat.

Lokasi warungnya deket kok, kamu tinggal ikutin aja jalan yang kamu lewatin tadi. Ntar juga ketemu warungnya.” Ucap bibi memberi petunjuk kepada Edo sambil memberikan cabe yang sudah dibungkus rapi dan dimasukan dalam kantong plastik.

Edo pun mulai berjalan menuju ke warung, tapi berhenti dan menoleh ke arah sang bibi.

Boleh tahu nggak bi, rumah gadis itu dimana ya?” tanya Edo kepada sang bibi sambil menaik turunkan alisnya.

Entar setelah nganter cabenya bibi kasih tau.” Jawab bibi dengan santai sambil berjalan masuk ke rumah.

Edo akhirnya pergi menuju warung untuk mengantarkan cabe milik bibinya. Sesampainya di warung, terlihat tak ada satu orang pun di warung itu. Edo pun berusaha memanggil-manggil pemilik warung, namun tetap tak ada jawaban.

Edo pun menuju kerumah sang pemilik warung yang berada tepat di belakang warung. Saat Edo berdiri di depan teras terlihat di dalam rumah itu terdapat gadis yang bergelar bunga desa.

Ya, gadis itu adalah gadis yang sama yang ia temui tadi pagi. Terlihat gadis itu berpakaian rapi seperti seorang santri dari pesanten. Gadis itu sedang membaca sebuah buku dengan serius dan duduk di lantai.

Dari kejauhan Edo membaca cover buku yang sedang gadis itu baca. Buku itu berjudul “ISTRI YANG BAIK DAN SHOLEHAH”.

Setelah membaca judul buku itu Edo hanya menga-nga dan Edo terkagum-kagum melihat gadis itu, yang sudah belajar hal seperti itu. Berbeda sekali dengan gadis kota yang masih asik memikirkan kesenang.

Mas, nyari siapa ya?” tanya seorang lelaki yang berada di samping Edo dan mengalihkan perhatian Edo dari gadis itu.

Ooh.. mas, i..ini saya mengantar cabe dari Bu Sopiah.” Jawab Edo terbata-bata sambil memberikan bungkusan cabe kepada lelaki itu, yang tidak lain adalah kakak dari gadis cantik yang ia pandangi dari tadi.

Ow, Bu Sopiah ya, tunggu bentar ya mas. Saya timbang dulu cabenya, mas tunggu di depan warung saja!” ujar lelaki tegap itu sambil berjalan menuju warung.

Edo pun berjalan menuju ke depan warung dan meninggalkan gadis cantik itu. Saat Edo berjalan menuju warung, gadis itu berhenti membaca dan menaruh bukunya itu dilantai lalu meminum segelas teh hangat yang ada di sampingnya sambil melirik memperhatikan Edo.

Tak sengaja Edo menoleh ke arah gadis yang sedang memperhatikannya itu. Gadis itu pun malu, karena ketahuan sedang curi-curi pandang. Pipi gadis itu pun memerah menandakan ia benar-benar sedang merasa malu.

Gadis itu langsung meletakan gelasnya dan segera mengambil buku untuk melanjutkan membaca sekaligus untuk menutupi wajahnya yang memerah. Edo hanya tersenyum melihat tingkah gadis desa itu.

Edo pun pulang setelah menerima sejumlah uang dari kakak gadis cantik itu. Saat pulang dengan berjalan kaki, Edo tersenyum-senyum sendiri karena teringat tingkah gadis desa itu. Tapi ada satu hal yang menganggu pikiran Edo.

Ya, Edo belum mengetahui siapa nama gadis itu. Oleh karena itu Edo bergegas menuju rumah dan ingin segara menanyakan sesuatu hal lagi.

Tentu saja bukan bertanya tentang dimana rumah gadis itu, melainkan dia akan bertanya tentang siapa nama gadis desa itu.

Dan Edo juga berencana untuk mencari tahu tentang profil gadis itu di media sosial.

EPISODE TERAKHIR “KIRIMAN SANG GADIS DESA”

Sang bibi terlihat sedang memotong kacang panjang yang akan dijadikan menu makan nanti sore. Dengan memandang ke arah luar rumah, terlihat bibi sedang memperhatikan Edo berjalan masuk kehalaman rumah dengan wajah berseri-seri. Sang bibi pun hanya tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya.

Dasar anak muda.” Ucap sang bibi dalam hati.

Bagaimana do, warungnya ketemukan?” Tanya bibi pada Edo yang memasuki rumah.

Ah bibi bisa aja nih, bukannya ngasi tahu dari awal kalau gadis itu yang punya warung.” Ujar Edo sambil menahan senyumnya.

Nah, tapi sekarang sudah tahukan rumah gadis itu.” Ujar bibi dengan nada menggoda dan sambil menerima uang dari Edo.

Setelah Edo memberikan uang dari hasil jual cabe, Edo langsung duduk di dekat sang bibi untuk menanyankan sesuatu.

Bi, nama gadis itu siapa?” Tanya Edo dengan nada pelan seperti orang berbisik.

Loh, kenapa tadi nggak tanya sekalaian?” Ujar bibi balik bertanya.

Tadi yang nerima cabe kakaknya, jadi mana mungkin aku bertanya kepada kakaknya.” Ujar Edo dengan nada melas.

Berarti kamu gak ketemu dong dengan gadis itu?” Tanya bibi kepada Edo dengan ekspresi kaget.

Aku sih sempet lihat dia lagi baca buku di dalam rumah.”  Jawab Edo sambil tersenyum. “Eh, terus siapa dong namanya?” Tanya Edo dengan nada mengoda dan sambil menggoyangkan alisnya.

Namanya…siapa ya, kok bibi lupa ya.” Ujar sang bibi menggoda Edo.

Ayolah bi, jangan bikin penasaran?” ucap Edo yang sangat penasaran.

Udah lah lupain aja, ngapin sih nanyain nama di mulu.” Ujar bibi yang tersenyum kepada Edo.

Ayolah bi, plisss. Aku cuma ingin kenal doang!” Ujar Edo memohon pada sang bibi dengan muka melas dan terlihat imut dengan kumisnya yang tipis.

Namanya, Siti Auliya Safitri.” Jawab sang bibi dengan lembut. “Tapi kamu beneran cuma ingin kenal kan?” Tanya sang bibi pada Edo, namun Edo hanya mematung dan tak mendengar pertanyaan bibinya itu.

Setelah mendengar nama tersebut Edo hanya terdiam, dan ia merasa sangat damai mendengar nama itu.

ahh, kebiasaan nih Edo, kalau dibilangin malah ngelamun!” ujar sang bibi sambil meninggalkan Edo yang terdiam dan tersenyum aneh.

Nama tersebut terus berkeliaran dipikiran Edo tapi walaupun begitu Edo tetap mencatat nama tersebut. Karena nanti dia akan membutuhkannya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang sang bunga desa.

Satu minggu Edo berlibur di rumah sang bibi. Dan selama satu minggu itu setelah ia kenal dengan sang bunga desa dia selalu lari pagi dan melewati rumah gadis cantik itu hanya untuk sekedar melihat sang gadis desa itu.

Dan sampai akhirnya Edo harus menyudahi liburannya dan kembali ke kota.

Sinyal adalah hal yang sangat ia rindukan.  Selain ingin bisa kembali aktif  bermedia sosial ia juga ingin segera mencari tahu tentang profil dari sang gadis desa di media sosial.

Di perjalanan pulang dan di dalam mobil Edo tertidur pulas. Saat ia sudah memasuki wilayah perkotaan, hp Edo bergetar terus menerus karena pemberitahuan dari media sosialnya yang datang secara bersamaan.

Edo pun terbagun dari tidurnya karena hpnya yang terus bergetar. Ia pun segera membuka hpnya itu, tapi dia tidak langsung membuka semua pemberitahuan dari media sosialnya. Melainkan ia segera mencari profil tentang sang bunga desa.

Di media sosial facebook ia mencari profil gadis itu. Edo sedikit khawatir jika gadis itu tak mempunyai akun facebook karena di desa itu sangat sulit sekali mendapatkan sinyal.

Beruntung sang Edo, ia berhasil menemukan profil sang gadis itu. Terlihat foto profil gadis itu hanyalah gambar kartun muslimah. Namun foto sampul dari akun facebook itu adalah foto keluarga dari gadis desa itu yang meyakinkan bahwa itu benar-benar akun dari sang gadis desa.

Edo pun segera melanjutkan pemeriksaan terhadap akun gadis cantik itu. Di halaman about, Edo mendapati hobi sang gadis yaitu membaca buku, Edo tak heran karena dia mengtahui sendiri saat gadis itu sedang melakukan hobinya.

Di halaman foto, Edo hanya menemukan beberapa foto saja. Tak ada foto selfi dari gadis itu. Yang ada hanya foto-foto waktu perpisahan sekolah gadis itu dari saat SD, SMP dan sampai SMA.

Tampaknya  akun facebook itu hanya untuk menyimpan kenangan-kenangan saja.

Lanjut di halaman kronologi.

Di halaman ini, Edo benar-benar dibuat menga-nga. Dan dia benar-benar kaget saat membaca halam kronologi sang bunga desa.

Saat Edo membaca kiriman terbaru dari gadis itu, Edo seperti terjatuh dan terlepas dari harapannya. Terlihat kiriman itu baru diterbitkan 3 hari yang lalu. Di kiriman tersebut terdapat sebuah foto yang seolah menjelaskan dan memberitahukan kepada Edo untuk segera melupakan sang bunga desa.

Ya, kiriman tersebut terdapat sebuah foto  yaitu foto undangan yang tertulis lengkap nama sang gadis desa. Tentu saja itu adalah uandangan pernikahan.

Karena di kiriman tersebut tertulis penjelasan dari sang gadis cantik itu.

“Mohon doanya teman-teman. Semoga pernikahan kami diberi keberkahan. Dan mohon doanya agar saya bisa menjadi istri yang baik dan sholehah”

Dari tulisan yang terdapat di kiriman tersebut, ada tulisan yang tak asing bagi Edo.

Tentu saja tulisan itu sama persis dengan yang ia baca di cover buku yang gadis desa itu baca.

Edo pun hanya menghela nafas dengan perasaan kecewa. Dan ia kembali menutup hpnya lalu lebih memilih kembali tidur. Walaupun perasaannya tersebut sangat mengganjal dihatinya.

Selesai

Matahari Itulah yang Pantas Diperjuangkan

Matahari Itulah yang Pantas Diperjuangkan

Mentari menyala dan menampakan cahayanya di pagi yang sangat indah bagi seorang Lisna, gadis cantik jelita berambut panjang dan berwarna hitam mengkilat.

Terlihat gadis itu sedang membersihkan kamar di kosannya.

Kring…kring…kring...” Terdengar suara dari hp yang berdering keras di atas meja. Yang membuat Lisna seorang mahasiswi matematika terusik untuk segera mengangkatnya.

Ya.. halloo.” Sahut Lisna yang mengangkat telepon itu.

Lisna, bagimana kabar kamu, nak?” terdengar sebuah pertanyaan dari seorang wanita yang berbicara di dalam telepon itu, yang tidak lain adalah ibunya Lisna.

Kabar Lisna baik bu, kabar ibu sendiri bagimana?” jawab Lisna dengan nada senang dan balas bertanya kepada ibunya.

Kabar ibu baik juga nak” jawab sang ibu. “Kamu kenapa minggu kemarin tidak menelpon ibu sama sekali? ibu khawatir, terjadi sesuatu padamu.” Ujar ibu Lisna dengan suara melas.

Gak ada apa-apa bu, Lisna hanya istirahat saja, soalnya minggu kemarin Lisna juga baru selesai mengikuti lomba matematika antar kelas jurusan matematika.” Jawab Lisna sambil berdiri dengan mengambil sebuah foto yang dibingkai berwarna merah muda di atas meja.

Jadi bener kata Susi, kamu dapat juara lomba matematika?” tanya ibu dengan nada senang.

Iya bu, timku jadi juara antar kelas matematika.” Jawab Lisna dengan tersenyum bahagia dengan memandang foto yang dia pegang itu.

Tapi kata Susi setelah lomba itu kamu kurang fokus belajarnya, apa kamu kelelahan atau sakit?” tanya ibu semakin mendetail.

Nggak bu, Lisna sehat kok.” Jawab Lisna sambil duduk di kasur lalu merebahkan tubuhnya dan tetep melihat foto yang ia pegang.

Ya sudah deh, kalau begitu ibu mau lanjutin masak. Belajar yang bener ya nak, jaga kesehatanmu baik-baik.” Nasihat sang ibu yang terburu-buru. “Oh iya, nanti kalau uang bulanan kamu sudah habis cepet kabarin ibu atau bapak ya. Kamu jangan pinjam-pinjam uang ketemen atau saudara ya.” Tambah sang ibu.

Iya bu,” jawab Lisna dengan senyuman manisnya dan mencium hpnya yang menandakan selesainya percakapan di telepon dengan ibunya.

Lisna pun kembali melihat foto yang ia pegang itu. Foto yang terdapat dirinya sedang membawa piala bersama seorang lelaki. Lelaki itu adalah rekan satu tim Lisna saat lomba matematika. Dan lelaki itu juga satu kelas dengan Lisna.

Nama laki-laki itu adalah Brian, diam-diam Lisna menaruh perasaan padanya. Tepatnya setelah lomba matematika antar kelas itu. Dari lomba itu, Lisna baru tertarik pada Brian padahal sudah 2 semester Lisna satu kelas dengan Brian. Semua itu karena sebelumnya Lisna dan teman-temanya mengenal Brian hanya sebagai seorang lelaki yang dikenal sangat primitif dan tertutup untuk bergaul dengan perempuan.

Namun setelah lomba itu Lisna mengenal Brian sebagai lelaki yang sangat lemah lembut dan ramah terhadap perempuan. Jauh berbeda dari Brian yang selama ini Lisna dan teman-temanya kenal.

Di sisi lain Brian memang terkenal sebagai lelaki primitif oleh teman-temanya. Brian tak pernah sekalipun mempunyai seorang pacar karena memang dia berprinsip untuk tidak pacaran dan bahkan dia sangat jarang sekali dekat dengan seorang perempuan.

Brian sendiri adalah pemuda yang berasal dari kampung, merantau ke kota untuk bekerja dan meneruskan sekolahnya sekaligus membantu membiayai kehidupan keluarganya di kampung.

Keberangkatannya ke kota tak lepas dari perjuangan orang tuanya karena ongkos untuk ke kota besar tidaklah sedikit. Oleh karena itu, dia tidak pernah main-main dalam kuliah ataupun bekerja.

Tapi seperti halnya Lisna, Brian pun merasa ada yang berbeda setelah lomba matematika antar kelas itu. Brian merasa ada hal baru yang membuat perasaannya menjadi senang jika dekat dengan Lisna. Jelas Brian tak begitu paham terhadap perasaanya itu karena memang sebelumnya dia tak pernah dekat dengan seorang perempuan.

Berbeda dengan Lisna yang sudah pernah pacaran dan mempunyai dua mantan pacar sejak SMA. Tentu saja Lisna lebih memahami tentang perasaan cinta. Dibandingkan Brian yang memang tak mempunyai pengalaman dalam hal asmara.

Tapi Brian justru khawatir dengan apa yang ia rasakan terhadap Lisna. Karena ia takut perasaan yang menyenangkan hatinya itu akan mengoyah prinsipnya yang tidak akan pernah pacaran.

Namun sejak awal pembentukan tim untuk lomba itu, memang Brian sudah mempunyai firasat bahwa prinsipnya itu akan goyah. Ditambah lagi teman-temannya selalu berpendapat jika dia dan Lisna sangat serasi jika dijadikan satu tim karena memang dia dan Lisna sama-sama pintar dalam belajar di kelas.

Hingga pada suatu pagi menjelang siang yaitu tepat pukul 10 pagi waktu jam kuliah masuk. Lisna dan Brian bertemu di depan kelas.

Saat bertemu walaupun hanya berpapasan, perasaan Lisna sangatlah senang, namun ia mencoba untuk tidak mengungkapkan perasaaanya itu, ia hanya bisa memperhatikan Brian yang lebih dulu masuk kelas. Sedangkan Brian sendiri hanya mencoba menyapa dengan senyuman sambil memandang Lisna sebentar lalu membuang muka.

Terlihat di wajah Brian masih kuat memegang prinsipnya. Namun sebenarnya dalam hati Brian bergejolak rasa yang belum pernah ia rasakan kepada perempuan mana pun.

Namun Brian hanya bisa menundukan kepalanya dan menahan rasa tersebut.

Sepanjang pelajaran berlangsung, tak henti-hentinya mata Lisna mencuri pandangan terhadap Brian. Hal itu pun membuat teman-teman Brian curiga dan menduga-duga bahwa Lisna menyukai Brian.

Jam Istirahat pun datang dan saat itu juga Brian tak henti-hentinya mendapat nasihat tentang asmara dari teman-temannya, Brian pun hanya diam dan sesekali tersenyum mendengarkan teman-temannya berbicara.

Walaupun terlihat cuek dan tak perduli sesungguhnya ia sangat terpengaruh nasihat dari teman-temannya itu. Brian pun mulai menerima dan mencoba mengerti perasaannya itu.

Lisna pun tak kalah sibuk dengan perasaannya, ia terus mencari tahu tentang laki-laki yang ia sukai itu, dari mencari profil facebook Brian dan mengamati setiap kronologi facebooknya. Bahkan Lisna diam-diam mengikuti setiap media sosial yang di gunakan Brian.

Namun Brian bukanlah orang primitif dalam teknologi. Bahkan tak perlu waktu lama untuk Brian sadar kalau Lisna diam-diam aktif mengikutinya dari media sosial. Brian pun cukup heran dengan Lisna, mengapa Lisna mau mengamati dirinya hingga seperti itu. Bahkan Lisna selalu menyukai kiriman yang Brian bagikan di media sosial, terkadang Lisna juga berkomentar jika Brian berbagi kiriman yang membahas pelajaran kuliah di media sosial.

Karena prilaku Lisna yang seperti itu, terlintas di pikiran Brian.

Bernarkah ia suka padaku? Tapi apakah aku harus menerima perasaan yang seperti ini?

Setelah Brian yakin bahwa Lisna suka padanya. Brian pun perlahan dan sedikit demi sedikit membuka perasaannya untuk Lisna.

Hal itu terbukti, karena semakin hari Brian mulai mau berbicara, menjawab dan membalas pandangan maupun sapaan dari Lisna yang selalu hadir di setiap mereka bertemu. Lisna pun sadar bahwa Brian mulai membuka kesempatan untuk dekat dengannya.

Semakin dekat dengan Brian Lisna semakin tak kuat membendung perasaannya yang meletup-letup di dalam hati. Apalah daya Lisna yang tak bisa berharap banyak karena memang Brian belum pernah pacaran jadi Lisna pun memaklumi kalau perasaanya itu seperti jemuran yang tak kunjung diangkat.

Sedangkan Brian hanya bisa merasakan gelisah karena perasaannya semakin menjadi-jadi. Dan ia tak tahu harus melakukan apa, walaupun sudah beribu kali ia diberi tips oleh teman-temanya.

Sedangkan prinsip Brian pun semakin lama semakin pudar dengan sendirinya karena perasaan asmaranya yang kini semakin dominan dan membuat dirinya benar-benar lupa diri.

Akhirnya kedua orang yang sedang kasmaran itupun mempunyai pikiran yang sama walaupun mereka tak pernah sekali pun membicarakannya.

Lisna berfikir untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada lelaki yang kini benar-benar ia cintai, walaupun ia tahu itu akan sangat beresiko berat untuk dirinya sebagai perempuan. Ia berpikir itu lebih baik dari pada ia digantung dengan ketidak jelasan oleh pemuda yang baru belajar asmara itu.

Brian pun tak jauh berbeda. Ia berfikir untuk memulai hal yang benar-benar asing baginya. Mungkin ia bisa mengungkapkan rasa cinta pada keluarganya beribu kali.

Namun mengungkapkan perasaan kepada seorang perempuan itu adalah hal yang sangat ekstrim baginya. Tapi hatinya sudah tak tahan lagi, sumbu kesabaran hatinya sudah mulai terbakar habis. Dia takkan bisa menutupi ataupun menahan ledakan hatinya itu nanti.

Hari Jumat, saat jam pulang kuliah pukul setengah 4 sore tepat di depan gerbang, berdirilah Brian dengan penuh keyakinan ingin menghadang Lisna dan ingin memberitahukan sesuatu.

Namun apalah daya Brian dia tak pernah sekali pun menghadang seorang perempuan untuk berbicara padanya. Akhirnya dia hanya berdiri dengan kepala tertunduk dan sesekali menoleh mencari perempuan yang akan ia ajak bicara itu.

Mas Brian, ngapain disini?” terdengar suara lembut dan khas seorang Lisna yang bertanya dan berdiri disamping Brian yang masih tertunduk memikirkan sesuatu.

Oh..? mbk Lisna.” Jawab Brian sedikit kaget dan menoleh ke arah Lisna yang menatapnya aneh.

Kebetulan sekali mbk, aku mau menyalin pembahasan materi kedua yang hari ini, boleh enggak ya, aku pinjam catatannya?” tanyanya dengan nada khas Brian yang kalem. “Soalnya, tadi aku kurang fokus mencatat materinya. Kalau mbk mengizinkan, aku mau pinjam 1 jam saja.” Jelas Brian untuk menyakinkan Lisna.

Oh.. bisa, tapi bukannya kelas sudah ditutup, dan kantin juga masih ramai sekali.” Ujar Lisna sambil mengambil buku dengan agak salah tingkah mendengar permintaan lelaki yang ia cintai itu.

Memang mas Brian mau mencatat dimana?” tanya Lisna sambil memberikan bukunya.

Oh, aku sih mencatatnya di taman deket sungai belakang kampus.” Jawab Brian sambil tersenyum dan menunjuk ke lokasi yang ia maksud. “Ok saya pinjam dulu ya, bukunya.” ujar Brian sambil berbalik arah meninggalkan Lisna.

Mas Brian” Lisna memanggil Brian, dan Brian pun berhenti. ”Boleh nggak saya ikut, biar bukunya nanti bisa sekalian saya bawa pulang.” mintanya pada Brian.

Oh.. boleh, tapi mbk Lisna mau nungguin sampai selesai” Jelasnya pada Lisna.

Gpp mas, lagian masih sore.” Jawab Lisna dengan tenang. “Jika sampai esok pagi pun akan aku tunggu mas.” Ucap lisan dalam hati.

Ok kalau begitu.” Jawab Brian dengan hati senang karena rencana dari teman-temanya berhasil dia lakukan.

Brian dan Lisna pun berjalan berdua menuju taman dekat sungai yang berada tepat di belakang kampus.

Namun karena Brian sebelumnya sama sekali belum pernah berjalan berdua dengan seorang perempuan. Brian pun berjalan lebih cepat dari Lisna seolah Brian tak mau berjalan sejajar dengan Lisna.

Dari belakang lisan pun hanya tersenyum melihat perilaku Brian yang benar-benar terlihat sebagai lelaki yang awam soal asmara.

Akhirnya perjalanan yang terasa sangat jauh bagi Brian berakhir. Mereka pun memutuskan untuk duduk di kursi panjang seperti pada umunnya di taman-taman.

Lisna pun duduk di kursi taman tersebut di bagian sebalah kiri.

Mbk Lisna, tunggu di sini dulu ya” ujar Brian pergi menuju ke pedagang kaki lima untuk membeli air minum.

Brian pun datang membawa dua botol air minum. “Ini mbk air minumnya” Brian menawarkan air minum pada Lisna.

Lisna pun dengan sigap menjulurkan tangannya untuk menerima air minum yang ditawarkan Brian. Namun bukannya memberikan ke tangan Lisna, justru Brian menaruh air minum itu di atas kursi tepat di samping Lisna.

Sekejap muka Lisna pun menjadi agak masam. Lisna pun hanya tersenyum karena heran dengan kakunya sifat Brian. Tapi Lisna tetap memaklumi hal itu, karena dia tahu Brian memang awam tentang hal itu.

Brian pun mulai menyalin catatan milik Lisna. Waktu terus berjalan Brian pun hanya fokus menulis dan hanya sesekali bertanya beberapa tulisan yang tidak ia pahami.

Menurut Brian bertanya sesuatu yang ia tidak pahami itu adalah hal biasa, jadi dia tidak ragu untuk bertanya pada Lisna. Tapi untuk Lisna, menjawab pertanyaan dari lelaki yang ia sukai adalah hal yang sangat menyenangkan. Ya, Lisna sangat menikmati sore itu dengan hati bahagia karena bisa berdua dengan Brian.

Akhirnya Brian pun selesai menyalin catatan Lisna. Ia pun melihat jam tangannya. Tak terasa sudah pukul 5 sore.

Walaupun menulis hingga satu jam setengah, Brian tak sedikitpun merasa jenuh atau pun lelah. Brian heran mengapa satu jam setengah begitu cepat berlalu saat itu. Bahkan Lisna justru merasa sore itu terlalu singkat baginya.

Brian pun mulai membereskan samua bukunya dan buku Lisna. Dan Brian pun duduk di kursi itu di bagian sebelah kanan dengan buku di tumpuk di tengah kursi atau tepat di antara mereka berdua.

Akhirnya selesai juga” ujar Brian dengan bernafas lega dan duduk bersandar di kursi sambil menatap ke atas langit.

Lisna pun hanya memperhatikan Brian. Terlintas di pikiran Lisna untuk mengungkapkan perasaannya.

Apakah bener-benar harus aku yang mengungkapkannya terlebih dahulu.” Ujarnya dalam hati dan semakin dalam menatap Brian yang melihat ke arah langit.

Brian pun juga berfikir untuk mengungkapkan perasaannya pada Lisna, tapi keraguannya masih sangat tebal menyelimuti keputusan besar yang akan ia ambil itu.

Angin sepoi di sore itu pun berhebus menerpa mereka berdua dengan suara yang terdengar keras menandakan diam di antara mereka berdua. Karena angin sepoi itu juga rambut Lisna pun terurai dengan indahnya dan tampak menguning karena terkena sinar matahari.

Bisakah aku berbicara sesuatu” di waktu yang bersaman meraka mengatakan kalimat tersebut dan otomatis memecah sepi di sore dengan langit yang mulai berwarna kuning itu.

Oh.. silakan mas dulu” ucap Lisna menawarkan kepada Brian.

Nggak mbk, mbk dulu saja” jawab Brian sambil membenahi cara duduknya dan meyakinka lisa untuk berbicara terlebih dahulu.

Karena Lisna sudah tak tahan memendam perasaannya, akhirnya Lisna berbicara terlebih dahulu. Lisna pun menarik nafas dalam-dalam dan menatap ke arah matahari yang mulai tertutupi oleh awan-awan tipis.

Sebenarnya setelah lomba matematika antar kelas itu, entah mengapa aku…aku merasa nyaman jika dekat dengan mas,” ucap Lisna dengan lembut namun tegas. Dan tetap menatap langit yang menguning.

Mendengarkan hal itu Brian pun kaget namun dia berusaha tetap terlihat tenang, walau hatinya sudah berkecambuk dan perasaan yang campur aduk.

Iya… setelah lomba itu, aku merasa ingin mengetahui semua tentangmu mas. Entah mengapa aku juga selalu ingin menyapamu, walaupun saat itu aku tahu mas hanya akan membalas sapaanku dengan membuang muka.

Dan aku senang sekali, ketika mas mulai mau berbicara, menjawab dan membalas sapaanku. Aku merasa mas sudah memberi kesempatan padaku untuk mendekat. Dan karena hal itu aku merasa seperti diberi sebuah hadiah atas semua perjuanganku selama ini.

Ya.. perjuanganku untuk bisa dekat denganmu, karena aku sangat mencintaimu mas!” Lisna pun mengungkapkan isi hatinya sejelas mungkin pada Brian. Dan setelah itu Lisna hanya tertunduk malu-malu dan berusaha menutupi wajahnya yang merah dengan rambut hitamnya itu. Dan dia juga berharap Brian mengerti apa yang ia maksud.

Setelah mendengarkan penjelasan lisan. Brian pun hanya diam dengan badannya yang merasa panas dingin, dan terlihat beberapa kali ia menelan ludahnya. Tapi Brian tidak begitu fokus dengan apa yang di maksud oleh Lisna. Ia malah teringat sesuatu saat Lisna mengatakan perjuangan.

Kata perjuangan yang diucapkan Lisna justru mengingatkan Brian kepada orang tuanya yang selalu berjuang untuk dirinya. Dia pun kembali teringat dengan prinsipnya untuk tidak pacaran. Ia juga teringat alasan mengapa dia memegang prinsip tersebut. Alasanya tidak lain adalah agar dia bisa fokus terhadap kebahagiaan keluarganya dan tidak hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.

Terima kasih mbk Lisna, sepertinya perasaanku pun juga begitu padamu.” Ucap Brian dengan nada kalem dan menoleh pada Lisna yang masih tertunduk malu.

Lisna yang mendengar ucapan Brian tersebut merasa kaget, ternyata cintanya terbalas. Hati Lisna begitu bahagia saat itu walaupun ia masih tetap tertunduk malu.

Dia pun mengingat saat ia menerima cinta dari pacarnya yang dulu. Tangannya dipegang dengan lembut dan mesra lalu dicium oleh pacarnya ketika Lisna menerima cinta dari pacarnya itu.

Lisna pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang akan dilakukan oleh Brian, setelah Brian mengakui perasaanya juga. Apakah Brian akan memegang tangannya atau memberinya sesuatu. Dan seperti itulah angan yang ada dalam pikiran Lisna.

Tapi perjuangan mbk itu seharusnya bukan untuk diriku.” Ucap Brian ya sontak membuat Lisna menoleh ke arah Brian dan melihatnya dengan aneh.

Lihatlah itu mbk!” ucap Brian sambil menunjuk matahari dan Lisna pun melihat ke arah matahari dangan perasaan bingung. “Iya itu…itu adalah matahari yang dengan perlahan mulai tenggelam. Walaupun perlahan, matahari itu pasti akan tenggelam. Seharusnya matahari itulah yang perlu mbk perjuangkan, bahkan tidak hanya mbk saja tapi aku juga harus memperjuangkan matahari yang akan tenggelam itu.” Ujar Brian yang semakin membuat bingung Lisna.

Matahari yang perlahan tenggelam itu adalah orang tua kita mbk.” Jelas Brian, yang membuat Lisna kaget dan membuatnya ingat kepada ibu dan bapaknya.

Orang tua kita berjuang membesarkan, mengawasi, melindungi, dan mendidik kita sejak kecil, selayaknya matahari menyinari dan menerangi bumi. Tapi pada saatnya nanti matahari itu akan tenggelam, dan matahari yang perlahan tenggelam itu adalah orang tua kita yang mulai menjadi tua.” Ucap Brian sambil menatap matahari yang mulai tertutup awan itu.

Jadi, perjuangkanlah mataharimu yang perlahan tenggelam itu mbk. Merekalah yang pantas mbk perjuangkan.” ucap Brian pada Lisna sambil menatapnya.

Setelah mengerti maksud dari perkataan Brian, Lisna pun hanya diam dan mengingat kembali tentang masa-masa saat bersama orang tuanya. Air mata Lisna menetes, ia merasa mempunyai banyak kesalahan pada orang tuanya. Karena selama ini Lisna tidak terlalu memperhatikan kebahagiaan dan perjuangan orang tuanya. Padahal orang tuanya sangat memperhatikan kebahagiaan dirinya.

Perasaan Lisna yang tadinya bahagia karena cinta kini berubah menjadi kesedihan. Ia tak mampu berbicara lagi dia hanya terus menangis dengan tetap duduk di kursi taman itu bersama Brian.

Maafkan aku mbk” ujar Brian yang terlihat khawatir pada Lisna dan ia merasa bersalah membuat Lisna menjadi sedih.

Mendengar Brian meminta maaf, Lisna pun hanya mengelengkan kepalanya memberi isyarat bahwa itu bukanlah salah Brian dan ia tetap menangis menundukan kepalanya.

Setelah tangisannya mereda, Lisna pun berkemas dan memasukan buku-buku yang berada di samping kanannya ke dalam tas. Brian pun hanya bisa memperhatikan Lisna yang akan meninggalkannya.

Lisna pun berdiri sambil mengusap air matanya. “Terima kasih mas Brian telah mengingatkan diriku.” Ucap Lisna dan mulai pergi meninggalkan Brian.

Brian pun hanya bisa diam melihat Lisna pergi meninggalkan dirinya. Walaupun Brian tahu bahwa bukunya ikut terbawa oleh Lisna. Tak mungkin Brian tega menghentikan Lisna yang sedang sedih, hanya karena bukunya yang ikut terbawa oleh Lisna.

Brian pun menghabiskan sore itu di taman dengan seorang diri dan ia masih merasa bersalah kepada Lisna. Tapi ada satu hal yang membuat Brian merasa lega.

Hampir saja aku melupakan prinsip hidupku sendiri.” Ujar Brian yang tersenyum sambil melihat matahari yang mewarnai langit menjadi jingga.

Bukti Janji yang Menyesatkan

Bukti Janji yang Menyesatkan

Di siang hari yang penuh dengan debu, berdirilah seorang gadis di pinggir jalan dengan rambut lembut dan terurai. Dibalut baju berwarna merah marun dan menyangklong sebuah tas sederhana berwarna hitam.

Gadis itu hanya diam dan sesekali menengok kanan dan kiri seperti menunggu seseorang. Sudah cukup lama ia menunggu di jalan yang lumayan ramai dan penuh dengan debu berterbangan.

Penantiannya pun selesai setelah datang seorang pria memakai masker dan kacamata yang serba berwarna hitam dengan motor besar yang juga warna hitam. Pria itupun membuka kacamatanya dan terlihat pancaran mata sang gadis menjadi bahagia karena bisa melihat kekasihnya lagi.

Sang pria pun menjulurkan tangan kanannya kepada sang gadis. Dengan sigap, sang gadis menjabat tangan pria itu dan tak lupa menciumnya dengan mestra.

Dengan masih tertunduk mencium tangan sang pria, tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Dorrr

Burung-burung di atas pohon pun berterbangan dan beberapa orang yang mendengar suara tembakan itupun kaget termasuk juga gadis itu. Terlihat tangan kiri pria itu memegang sepucuk senjata api yang mengarah ke perut kiri sang gadis.

Gadis itu coba memandang sang pria dengan wajah kaget dan bingung, namun tangan yang sedang dijabat oleh gadis itu ditarik dengan kasarnya. Dan pria itupun mendorong sang gadis hingga jatuh terduduk.

Pria itu berusaha kabur, namun ada beberapa orang yang coba menghalangi dan berusaha menangkapnya. Walapun sempat berkelahi tapi pria itu berhasil kabur dengan motor besarnya. Dan hanya meninggalkan sebuah masker yang sobek.

Beberapa orang yang gagal menghalangi pria itu, melapor kejadian tersebut ke kantor polisi dengan membawa catatan nomor polisi motor yang di pakai pria pelaku penembakan itu.

Di sisi lain gadis berambut panjang itu hanya bisa menangis tersedu-sedu di pinggir jalan dengan kepala yang tertunduk dan rambut yang menutupi wajahnya.

Layla nama gadis itu, ia menangis histeris sambil memegang perut sebelah kiri yang berlumuran darah membasahi bajunya yang bersih berwarana merah marun itu.

Tak disangka pria yang bernama Reno itu tega menembak Layla kekasihnya sendiri. Layla pun hanya bisa menangis dengan perasaannya yang hancur.

Layla merasakan luka yang sangat-sangat menyakitkan di perut dan juga di hatinya.

Hingga akhirnya Layla sampai di rumah sakit dan ia pun tatap menangis tanpa henti. Orang-orang yang menolongnya pun hanya bingung melihat Layla yang terus menangis padahal luka karena timah panas yang berada di perutnya itu sudah diberi obat penghilang rasa sakit.

Teringat kenangan-kenangan yang ia lewati bersama kekasihnya itu, namun semuanya hancur berkeping-keping karena luka yang terdapat di perutnya itu.

Teringatlah sebuah janji dari sang Reno untuk dirinya.

Mana mungkin aku melukaimu dengan tanganku. Aku tak akan melukai dirimu sedikit pun…tidak akan pernah.” Janji yang teringat oleh Layla.

Mas Reno bohong, mas Reno bohong, mas Reno bohong.” Jerit Layla sambil menangis mengingat janji kekasih yang menembaknya itu.

Tenanglah bu…ibu butuh istirahat agar luka di perut ibu tidak menjadi lebih parah. Dan juga agar janin ibu selamat.” Ujar perawat yang sedang membersihkan darah diluka Layla.

Ya…satu-satunya hal yang membuat resah Layla adalah mengapa Reno mau dan berani mencoba membunuh calon bayinya sendiri yang sedang Layla kandung.

Padahal sebelumnya mereka telah saling berjanji bahwa setelah menikah nanti mereka akan mengurus anak yang Layla kandung itu bersama-sama.

Sambil tergeletak di kasur rumah sakit dengan rambut yang terurai di bantal dan dengan tangisnya yang mulai mereda, akhirnya Layla pun tertidur.

Tak beberapa lama, Layla pun kembali terbangun. Dia pun kembali meneruskan tangisannya.

Dia masih tidak percaya Reno mau melakukan hal seperti itu padanya. Karena selama ini Reno lah orang yang sangat-sangat ia percayai dan paling sayang padanya.

Tok tok tok” terdengar orang mengetuk pintu ruangan pasien yang Layla tempati, masuklah 2 orang bapak-bapak, salah satu dari mereka yaitu seorang yang berusaha menangkap Reno saat berusaha kabur dan bersama seorang polisi berbadan tegap.

Dua orang itu hanya ingin meminta keterangan dari Layla.

Maaf ibu Layla kedatangan kami mengganggu anda, kami kemari hanya ingin memberi informasi bahwa pelaku penembakan terhadap ibu sudah kami tangkap dan sudah kami amankan. Dan juga kami akan sedikit meminta keterangan kepada ibu untuk menangani kasus ini.” jelas sang polisi kepada Layla.

Berdasarkan keterangan dari pelaku, apakah benar ibu Layla ini kekasih dari pelaku yang bernama Reno?” tanya sang polisi kepada Layla.

i..i..iya pak” jawab Layla terbata-bata karena sambil menangis.

Pelaku juga terbukti mengkonsumi narkoba.” Tambah sang polisi.

Tapi pak polisi, Reno itu bukan pengonsumsi narkoba, saya kenal dia.” Layla pun membantah perkataan pak polisi itu sambil menangis.

Setelah cukup lama pemeriksaan berlangsung terhadap Layla, dirinya pun mengajukan sebuah permintaan kepada bapak polisi itu.

“Pak bolehkah saya bertemu dengan Reno? ” tanya Layla dengan nada sedikit ragu.

Ibu bisa menemui saudara Reno atau pelaku, setelah ibu sudah dalam keadaan membaik. Ibu bisa datang langsung ke kantor polisi untuk menemuinya.” Pesan sang polisi kepada Layla dan kedua pria itu pun meninggalkan Layla.

Satu minggu pun berlalu, dengan luka yang masih terasa sakit, Layla datang ke kantor polisi. Layla hanya ingin dipertemukan dengan pelaku penembakan terhadap dirinya yaitu Reno kekasihnya
sendiri.

Layla pun diminta untuk menunggu di ruangan khusus. Tak lama polisi pun membawa seorang pria yaitu sang tersangka penembakan ke hadapan Layla sang korban.

Namun, saat dipertemukan dengan Reno, Layla malah menjadi bingung ia malah membantah bahwa orang yang dipertemukan kepadanya itu bukanlah Reno.

Polisi pun menjelaskan kepada Layla bahwa pria yang ada dihadapannya itu adalah tersangka penambakan terhadap dirinya. Dan nama dari pria itu adalah Reno berdasarkan identitas yang pria itu bawa dan berdasarkan pemeriksaan polisi.

Dia bukan Reno pak, saya kenal Reno dan Reno juga tidak mengkonsumsi narkoba.” Tegas Layla kepada polisi.

Siapa kamu? Berani-beraninya mengaku sebagai Reno dan berusaha membunuh janinku.” Tanya Layla kepada pria yang menjadi tersangka itu sambil meneteskan air mata.

Akhirnya pria itu angkat bicara.

Saya hanya pecandu narkoba, saya akan melakukan apapun perintah dari orang yang mampu membayar saya. Ya… saya hanya disuruh menyamar sebagai Reno dan diperintah untuk menembak janin yang sedang mbk kandung.” Pengakuan sang pelaku, sontak membuat semua terkaget temasuk juga polisi yang berhasil di kelabui oleh pelaku penembakan itu.

Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?” tanya Layla dengan membentak dan semakin deras meneteskan air mata.

Dia sendiri!!! Reno…Reno sendiri yang memerintahkannya hahah.” Jawab pria pecandu narkoba itu sambil tertawa.

Polisi pun segera membekuk dan membawanya pergi dari hadapan Layla.

Satu lagi, Reno berpesan bahwa dia tidak akan mengingkari janjinya. Dia tidak akan melukai dirimu sedikit pun dengan tangannya tapi dengan tangan orang lain.” Ucap pria itu sambil tertawa dan diseret oleh polisi untuk di masukan kembali ke penjara.

Mendengarkan hal itu, Layla tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menangis. Hancur sehancur-hancur hatinya seolah hidupnya di dunia selama ini hanya ditipu oleh sebuah janji.

Kekecewaan dalam hati Layla hanya menimbulkan penyesalan yang mendalam.

Dan janin yang ada di kandungannya adalah bukti janji yang menyesatkan.

Kenapa Harus Seperti Ini

Kenapa Harus Seperti Ini

Di pagi yang cerah saat libur panjang, seolah waktu sedang memanjakan para siswa malas . Rian (16 tahun), dengan mata kiri menutup dan mata kanannya yang fokus melihat hp yang sedang dibongkar. Seolah dia sedang mengerjakan suatu hal yang paling penting di dunia.

Rian, kamu mau di rumah atau ke sawah?” tanya ibu agak berteriak dari kejauhan.

Di rumah aja bu.” Jawab Rian yang tetap menutup mata kirinya.
Kalau gitu, kamu cuci piring ya… sama bersihin kamar mandi!” perintah ibu kepada Rian.
Iyaaaaaa…. jawab Rian  dengan sedikit kesal.
Kerjain loh … jangan iya iya aja, disuruh ngerjaian kerjaan kaya gitu aja… gak pernah dilaksanain… di kasih  kerjaaan agak susah ngeluh.” Omel ibu kepada Rian .  
Iya bu, entar aku kerjain, jangan ribut kenapa!” ujar Rian  sambil cemberut.
Adek udah tidur tuh, nanti kalau bangun kamu gantiin popoknya sama suapin bubur, yang ada di panci, jangan lupa buburnya diademin dulu, kasihan adeknya kalau buburnya panas.”
Iyaaa…. Rian  tauuu bu…” ujar Rian  dengan agak cuek.
Ibunya pun pergi bersama adik laki-laki Rian  yang bernama Rio  (7 tahun).
 Rio  dibonceng ibu menggunakan sepeda menuju kesawah.
Rian pun tak perduli dengan keberangkatan ibu dan adiknya, karena dia fokus dengan hpnya yang sudah ia bongkar menjadi seperti rongsokan.
5 menit berselang tiba-tiba sang adik perempuan menangis.
Haduh… kok udah bangun…sih…!  baru aja ditinggal pergi, udah bangun aja, Bakalan repot nihhh..” Rian  pun segera mengcek adik perempuannya yang bernama Ria (2,5 tahun) itu.
Lohh.. ternyata masih tidur, ngigau kali ya…” ujar Rian  yang bingung sambil garuk-garuk kepala dengan rambut khas orang bangun tidur.
Ngigaunya nangis, sampai air matanya menetes… mimpi apa ini anak ya…?” ucap Rian  dengan bingung.
Rian pun kembali meneruskan pekerjaannya yang membuang waktu itu.
Belum sampai memegang alat-alat untuk membongkar hp, tiba-tiba dari jendela terdengar suara.
Mas… mas.. .
Lohh… ngapain kamu balik lagi…? “ tanya Rian  kepada Rio .
Mas… ibu… “ ucap Rio  dengan mewek sambil meneteskan air mata.
Rian pun segera bangun dari posisi duduknya. Dan dengan segera mendekat ke Rio .
Kenapa ibu…?”, tanya Rian  dengan sedikit panik.
Namun, Rio  tak mampu berbicara seolah lidahnya kaku. Dia pun hanya bisa mewek dan meneteskan air mata saja.
Lalu, Rian  mendekat dan memegang pundak Rio sambil kembali bertanya.

Kenapa ibu?  Jawab!!  kok malah mewek sih?” tanya Rian  yang bingung kepada adik laki-lakinya itu.
Rio pun berusaha untuk berhenti menangis sambil mengusap air mata di wajahnya.
Saat Rio  mengusap wajahnya, sekilas Rian  melihat luka di lengan Rio .
Kamu jatuh yooo??!!!! dimana ibu sekarang??” tanya Rian  dengan membentak dan benar–benar khawatir.
A..a..aku jatuh sama ibu di jalan menurun deket sungai….” jawab Rio  dengan terbata-bata karena menahan tangis.
Belum selesai mendengar jawaban Rio , Rian  segera berlari menuju jalan menurun yang tak jauh dari rumahnnya itu.
Kamu jagain Ria di rumah aku mau nyusul ibu….” ucap Rian  kepada Rio  sambil berlari dengan perasaan khawatir.
Yang terlintas di benak dan perasaan Rian  hanya khawatir dengan ibunya itu.
Ibuu” yang ia teriakan dalam hati sambil berlari kencang tanpa menoleh kanan dan kiri.
Sampainya di jalan menurun itu, Rian  melihat ibunya terkapar tertimpah sepeda.
<!– adsense –>
Buuuu…. teriak Rian  dengan jantung berdebar kencang, hati tak tenang dan pikirannya melayang layang.

Rian….” suara ibu yang khas seperti orang kesakitan.
Ibu…. kok bisa kaya gini ? ” tanya Rian  sambil mengangkat sepeda dan menjauhkannya dari sang ibu.
Ibu pun berusaha duduk dan Rian  pun tak kuasa menahan air matanya karena melihat sang ibu terluka.

Terlihat di pipi kanan ibunya ada darah merah segar  pada luka yang bercampur dengan debu. Kaki di bagian betis terlihat sobek dan mengalir darah.
Rian pun hanya menangis  sambil membersihkan ibunya yang kotor dan terluka itu.

Aduh… “ jerit ibu yang berusaha  menahan rasa sakit pada pergelangan tangan kanannya.
Ibu mencoba menggerakan pergelangan tangannya tersebut dan terdengar suara tangannya yang patah itu.
Sepertinya tangan ibu patah..” ujar ibu sambil meringis kesakitan.
Lagi-lagi Rian  hanya bisa menangis memandang sang ibu dengan tangan kanan lemas dan tak berdaya.
Ayo kita pulang, ibu masih bisa jalan, kamu bawa sepedanya saja.. biar ibu jalan sendiri…” ujar ibu sambil berdiri di bantu Rian .
Ibu berusaha bejalan, namun Rian  tak tega melepaskan ibunya yang tertatih-tatih itu.
Dia pun menuntun Ibunya berjalan menanjak.

Udah, ibu bisa jalan sendiri dari sini… kamu bawa sepedanya aja … kasihan tuh rodanya seperti angka delapan.”

Air mata Rian  terus mengalir dan suara tangisannya semakin keras sambil membawa sepeda yang sempat diperhatikan oleh ibunya walaupun ibunya sendiri terluka cukup parah.

Sampainya di rumah, ibu duduk bersandar di tembok sambil berusaha membersihkan diri dengan tangan kirinya dan tangan kanannya tergeletak lemas.
Rian dan Rio  hanya bisa menangis dan membasuh luka ibunya dengan kain basah.
Menangis mengaung-ngaung melihat ibu mereka terluka dan mencoba kuat di hadapan anak-anaknya.

Udah jangan nangis, nanti adik bangun lagi… denger suara kalian.” tegur sang ibu.
Benar saja, Ria pun bangun, dan dangan sigapnya ibu berdiri lalu segera menepuk-nepuk Ria yang menangis dengan tangan kirinya.

Dan Ria pun minta digendong oleh sang ibu.
Ibu pun berusaha menggendongnya dengan tangan kiri.
Namun, usaha ibu gagal…

Rian, Rio  bantuin ibu gendong Ria…” perintah sang ibu kepada kedua anak laki-lakinya yang sedang menangis tak henti memperhatikan sang ibu. 
Rian pun menggendong adiknya yang rewel karena bangun tidur itu.

Sini Ria ibu pangkuin, Rian  kamu ambil popok di lemari adik…” perintah ibu.
Rian pun mencari popok di lemari.. namun Rian  tidak menemukannya karena Rian sendiri tak pernah tau urusan tentang mengurus adiknya.
Ibu pun segera berdiri lagi dengan meringis kesakitan dan dia mengambil popok untuk Ria.

Nih, kamu pasangin popoknya….” perintah ibu sambil meringis kesakitan karena berusaha duduk.
Rio, ambilin bubur di panci pake mangkuk kecil punya adek , ibu mau suapin adek” perintah ibu kepada Rio  yang tak kunjung berhenti menangis.

Setelah mengambilkan bubur sambil menangis, Rio  pun memberikannya pada ibu.
Ibu berusaha menyuapai Ria, dengan tangan kiri namun ibu kesusahan.

Rian pun meminta mangkuk berisi bubur itu. Rian  tak tega melihat ibunya meringis kesakitan, dia berusaha membantu sang ibu… menyuapi sang adik perempuan.
Namun, setelah dia berusaha menyuapai adiknya itu, dia hanya membuat adiknya menangis.

Rian merasa kesal dan marah-marah karena adiknya susah untuk disuapi.

Disuruh makan bubur 3 sendok aja susah banget…  bikin emosi…” ujar Rian  yang kesal.
Kamunya yang sabar, anak kecil emang kaya gitu Rian.” nasihat sang ibu pada Rian .

Emang ibu gak emosi tiap hari nyuapin adek yang nangis terus kalau makan” tanya Rian  dengan kesal.

Nggak lah…  jawab sang ibu dengan tegas.

Udah kamu telpon bapak aja, beritahu agar cepet pulang” ucap ibu sambil mendekat ke Rian  dan mengambil mangkuknya.

Oh iya hpku, masih berantakan” ujar Rian  yang tersadar hpnya yang terlupakan karena peristiwa itu.
Setelah hari itu, Rian  menjadi partner sang ibu. Rian  menjadi tangan kanan sang ibu, semua pekerjaan dikerjakan oleh Rian  dengan diberi petunjuk oleh ibu.

Namun, tak satu pun pekerjaan yang beres di tangan Rian . Semua pekerjaan tetap ibu yang menyelesaikannya.
Hampir setiap hari Rian  menangis memperhatikan sang ibu membereskan setiap pekerjaan dengan tangan kirinya, dia merasa bersalah dan merasa tak berguna sebagai anak. Tak satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan, dia hanya bisa merepotkan ibunya yang selalu merasakan sakit di setiap gerakannya.

Menjerit hati Rian  setiap kali dia melihat ibunya merasakan sakit.

Kenapa harus dengan cara seperti ini untuk membuka kesadaran ku, kenapa aku baru sadar setelah ibu sakit.

Hanya karena Lupa

Hanya karena Lupa

Jam alarm yang menyala di atas meja bergetar seolah seperti gempa dan berbunyi keras seolah seperti ibu meneriaki Edi untuk segera bangun. Namun, Edi tetap saja susah untuk bangun.

Kira-kira seperti itulah gambaran Edi selama 5 hari ini. Semenjak dia bekerja untuk pertama kalinya seolah hidupnya berubah seperti kapal yang terbalik. Yang terlihat hanya kekacauan pada dirinya.

Sudah 5 hari juga Edi bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah bank. Dan dia tinggal di kos-kosan yang tak jauh dari tempat kerjanya itu.

Banyak hal yang berubah dari Edi, yang dulu sering bermalas-malasan kini dia dituntut untuk benar-benar mandiri.

Dan selama 5 hari itu, dia berangkat bekerja dengan terburu-buru. Banyak sekali kebiasan baik yang dia lupakan ketika dia masih di rumah dulu.

Berjalan tergesa-gesa, tak memperhatikan sebelah kanan atau sebelah kirinya. Yang dia lihat hanyalah detik jarum jam yang berada di lengan kirinya itu, yang seolah seperti bom yang akan segera meledak.

Rambut kusut, muka bak gorengan baru di angkat, baju seperti baru di kunyah oleh kambing adalah tampilan Edi saat itu. Mungkin saat itulah masa-masa terburuk dari hidup Edi.

Beruntung dia cukup cekatan dalam bekerja, jadi kekacauan pada dirinya itu tidak terlalu terlihat.

Satu hari yang melelahkan akhirnya akan berakhir. Tak terasa jam menunjukan pukul 4 sore.  Sekacau-kacaunya Edi adalah saat jam pulang kerja.

Berbeda seperti saat berangkat bekerja, saat pulang kerja Edi berjalan sempoyongan, merasakan letihnya bekerja.

Namun, selama 5 hari ini setiap dia pulang kerja, ada satu hal yang menarik perhatian pemuda kacau ini.

Saking menariknya, dia selalu memandangi, memperhatikan, dan mengamati dari kejauhan. Namun, menariknya hanya di mata Edi saja, di mata orang lain itu hanyalah rumah kosong yang terbengkalai.

Iya, rumah itu adalah rumah kosong. Rumah yang desainnya moderen itu tampak dipenuhi dengan semak-semak belukar yang tumbuh liar.

Edi selalu bingung saat melewati rumah itu, kadang dia sesekali berhenti untuk lebih lama mengamati rumah itu.

Dia memperhatikan dari ujung atap, pintu, lantai teras, jendela kaca dan gerbang bagasi yang bahan kayu.

Tapi dari pengamatannya itu, dia belum mengerti apa yang menarik dari rumah yang dia amati itu.

Dia juga sempat beberapa kali bertanya kepada orang-orang di sekitar rumah itu, kenapa rumah itu di tinggalkan dan dibiarkan kosong.

Namun, Edi hanya mendapatkan jawaban yang sama, yaitu tidak ada yang tahu tentang rumah itu.

Karena di daerah tersebut jarang sekali terjadinya interaksi atau sosialisai antar tetangga, jadi wajar jika tidak ada yang tahu riwayat dari rumah itu.

Keesokan harinya, seperti biasa Edi berangkat  kerja dengan terburu-terburu lagi, dan hari ini dia benar-benar kesiangan.

Suasana berangkat siang sangat berbeda, banyak sekali debu di sepanjang jalan yang dia lewati.

Sesampainya di kantor, seperti biasa dia langsung membersihkan dan membereskan pekerjaannya satu persatu.

Entah apa dan darimana, tiba-tiba ada hal aneh mengusik perhatian Edi saat membersihkan kaca.

Dia pun sejenak menghentikan tangannya untuk mengelap kaca yang dia bersihkan.

Kaca yang dia bersihkan itu sebelumnya kotor karena debu, padahal baru kemarin dia bersihkan.

Lalu Edi meneruskan kembali membersihkan kacanya dengan sambil memikirkan hal aneh yang tiba-tiba datang.

Setelah bersih, Edi mundur beberapa langkah untuk mengecek sudah bersihkah kaca yang dia bersihkan itu.

Tiba-tiba terlintas di pikiranya dan terucap seponton dari mulutnya

Nah, sudah bersih seperti kaca di rumah itu.”

Edi kaget dengan ucapanya tersebut sambil menutup mulutnya dan dengan mata yang tak tenang.

Lalu dia melihat ke lantai yang baru saja dia bersihkan juga.

Akhirnya iya menemukan ke aneh yang dia bingungkan selama ini tentang rumah kosong itu. Muncul banyak pertanyaan di benaknya.

Kenapa kaca rumah itu bersih sekali, padahal banyak debu di sekitar rumah itu..  kok bisa bersih seperti di lap setiap hari.” ujar sambil membayangkan rumah yang 5 hari terakhir dia amati itu.

Dan kenapa lantai teras rumah itu juga bersih seperti di bersihkan setiap hari.”
Kebingungan itu membuatnya selalu berpikir sambil melamun.

Tak terasa jam menunjukan pukul 5 sore.

Edi pun bergegas pulang dengan badan yang letih dan kali ini dia benar–benar terlambat pulang.

Di jalan pun Edi masih memikirkan tentang keanehan rumah itu.

Edi pun berlari bergegas ingin mengamati rumah itu lagi.Setelah sampai, dia langsung memperhatikan lantai teras dan kaca rumah itu.

Iya…. iya….. aku tidak salah, kaca rumah itu bersih seperti kaca kantor yang aku bersihkan dan lantainya juga bersih…” ujar edi sambil menunjuk-nunjuk kearah rumah kosong itu.

Tapi siapa yang membersihkan rumah itu, rumah itukan tidak berpenghuni.” Ucap Edi mulai penasaran.

Lalu dia coba bertanya pada tetangga sebelah dari rumah kosong itu.

Pak apakah rumah itu di bersihkan oleh seseorang…?” tanya edi pada tetangga rumah kosong itu.

Tidak, tak ada yang pernah masuk kesana, apalagi… membersihkannya
Kalau memang ada yang membersihkannya kenapa… tidak dibersihkan semua..”

Penasaran Edi semakin memuncak, dia benar-benar ingin tau apa isi rumah itu dan mengapa kaca serta lantai terasnya selalu bersih padahal sama sekali tidak di urus.

Edi pun menatap langit yang berwarna jingga di sebelah barat. Yang menandakan malam yang sudah mendekat dengan kegelapannya.

Akhirnya Edi pun memutuskan untuk menyerah pada rasa penasaranya.

Edi akhirnya masuk ke halaman rumah kosong itu, langkahnya sangat yakin saat menginjak rumput yang tumbuh liar, yang tingginya hampir menutupi lututnya.

Kedatangan Edi mengusik penghuni rerumptan itu. Belalang-belalang melompat menjauh dari dirinya.

Setelah melewati hamparan rumput lebat, Edi di hadapkan dengan teras.

Teras yang lebarnya tak lebih dari 3 meter persegi itu berlantaikan granit berwarna putih dan warna hitam disetiap sisi teras.

Sama seperti pengamatan Edi dari kejauhan, lantai teras itu bersih seperti baru saja dibersihkan.
Edi berusaha mencopot sepatunya agar dia bisa naik ke teras itu tanpa mengotorinya.

Walaupun dia sendiri belum tahu siapa yang membersihkannya, tapi menurutnya menghargai kebersihan adalah prinsip utamanya karena dia sendiri adalah petugas kebersihan.

Setelah mencopot sepatu dan tak lupa kaus kakinya juga, dia pun menginjakan kakinya ke lantai teras itu.

Telapak kakinya merasakan hal aneh. Di sore yang sehangat ini, teras itu terasa sangat dingin hingga terasa sampai ke ubun-ubun.

Namun, hal itu tak menghalangi langkah kaki Edi. Dia pun melanjutkan pengamatannya.

Kaca yang dia amati juga bersih seperti yang dia lihat dari kejauhan tadi.

Terlihat ada sesuatu di kaca itu, tepatnya di balik kaca itu. Edi pun mendekat dan melihatnya baik-baik.

Ternyata gambar yang berbentuk seperti mata sebelah kiri.

Edi merasa agak was-was sambil menelan ludahnya yang terasa hangat itu.

Edi semakin fokus mengamati gambar mata tersebut.

Tapi tiba-tiba… mata itu.. mata itu…

Berkedip.

Sepontan.. Edi kaget dan mundur sambil terjatuh duduk.

Jantungnya… berdebar-debar dan terus berdebar, nafasnya berhembus tak tenang… dia pun kembali menelan ludahnya, namun ludahnya kali ini terasa dingin.

Belum selesai dengan keadaan yang sangat mengagetkan tersebut, tiba-tiba pintu di dekat jendela kaca itu terbuka.

Naman pintu itu tidak terbuka lebar, dan dari pintu itu muncul seseorang yang hanya menampakan kepala dan setengah badannya.

Orang itu adalah seorang kakek, kira-kira umur 70-an

Kakek itu hanya memandang kedepan dengan wajah keriputnya dan satu matanya berkedip-kedip.

Siapa di sana ?” tanya kakek itu.

Edi pun masih diam, sambil mengamati kakek yang tidak menyadari keberadaannya itu.

Edi berusaha berdiri perlahan-lahan..

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan tongkat menggunakan tangan kanannya, lalu memukulkannya kelantai beberapa kali.

Lagi-lagi Edi terkaget.

Mo…mo…hon maaf kek, saya kesini ha..ha..hanya ingin mengamati rumah ini…” ucap Edi terbata-bata.

Ow… mendekatlah…” perintah kakek itu kepada Edi dengan matanya yang terus berkedip-kedip sebelah.

Edi berusaha medekat ke kakek berwajah keriput itu dengan sedikit was-was.

Kakek itu pun mengendus-enduskan hidung keriputnya kearah Edi.

Kamu bau sabun..” ucap kakek itu sambil membuang nafasnya.

Saya habis mencuci piring dikantor kek..” kata Edi kepada kakek itu.

Ow.., jadi kamu pulang kerja.” ucap kakek itu sambil membalikan badan ke arah pintu.

Masuk dan istirahatlah, dan juga lanjutkanlah pengamatanmu..” ucap kakek itu menawarkan Edi masuk dan kakek itu berjalan sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke lantai.

Edi pun masuk mengikuti kakek itu sambil menutup pintu.

Maaf ya..  di sini gelap…” ucap kakek sambil tersenyum pada Edi dan terlihat gigi putih rapi sang kakek.

Tapi Edi sadar itu seperti gigi milik pamannya, yang pamannya pernah beli di dokter gigi.

Duduklah” ucap sang kakek menawarkan duduk kepada Edi di sofa yang terlihat hitam karena kegelapan.

Ya… di rumah ini tak ada penerangan, haha kalaupun ada itu akan percuma, karena aku buta..” ujar kakek itu dengan tertawa ringan yang lagi-lagi menampakkan giginya.

Ternyata benar dugaanku, kakek ini buta.” ujar Edi dalam hati.

Kakek tinggal di sini sendiri..?” tanya Edi kepada kakek keriput itu.

Iya…”  jawab kakek itu sambil memandang kedepan khas orang buta.

Lalu siapa yang membersihkan rumah ini hingga bersih sekali…?” tanya Edi dengan perlahan.

Aku yang membersihkannya sendiri, apakah kamu orang baru disini…?” jawab kakek dan bertanya mengubah topik pembicaraan.

Iya kek, saya baru disini.” jawab Edi sambil melihat keluar dan nampak semak-semak berwarna kemerah-merahan karena sinar matahari yang sebentar lagi meredup.

Tapi kek, kenapa kakek tidak meminta tolong pada orang, untuk membersihkan semak-semak di halaman, agar terlihat bersih kek…?” tanya Edi sambil menyelipkan saran.

Haha… ternyata kamu perduli sekali ya..” ucap kakek sambil tertawa.

Tidak nak, semak-semak itu pemandangan yang sangat indah” jawab kakek sambil berhenti tertawa.

Pemandangan…..??? apakah kakek bercanda…aaa…” ujar Edi sambil menoleh ke arah kakek dan saat itu juga Edi terdiam.

Edi melihat kakek menunduk dan sedikit tertawa kecil. Tiba-tiba mata yang berkedip-kedip dari tadi pun berhenti.

Edi tetap menatap kakek itu dengan bingung.

Sebenarnya aku tidak sepenuhnya buta, satu mataku ada di kaca yang kau lihat tadi.” Ucap kakek dengan pelan dangan nafas tak stabil.

A..a..ap…pppa… maksud kak….kakek..?” tanya Edi sedikit cemas dan menelan ludahnya yang terasa pahit.

Tiba-tiba… kakek keriput itu menatap Edi dengan 1 matanya yang kosong yaitu mata sebelah kiri.

Melihat hal itu, Edi sadar kalau mata kiri yang berkedip di kaca tadi adalah mata kakek itu.

Edi berencana berlari sejauh mungkin karena dia takut.

Namun celaka…

Celaka besar bagi Edi…

Belum sempat melangkah untuk berlari….

Gigi milik kakek yang dia kira palsu itu ternyata asli, dan sudah menggigit lengan kanannya.

Aaaaaaaaa…… lepaskannnn….!!!!!!!!!” terik Edi histeris karena digigit oleh kakek yang bermata kosong sebelah dan memandangnya dengan wajah keriput yang berekspresi senyum jahat.

Tangan Edi terasa mulai nyeri dan kaku, Edi terus memberontak dari gigitan itu.
Wajah panik Edi benar-benar menggambarkan ketakutannya.
Dia pun memejamkan matanya dan masih merasakan digigit kakek itu.
Edi lalu membuka matanya, tiba-tiba Edi mulai terdiam secara perlahan dengan nafas terengah-engah.

Huffffff ….. ternyata mimpi..” ujar Edi dalam keadaan masih tergeletak dengan tangan kanan tertimpah tubuhnya.

Dia pun bangkit dari posisinya dan duduk dengan merasakan nyeri dan kaku pada tangan kanannya karena keram.

Badannya sangat lemas, dan dia sadar bahwa di sedang dalam kegelapan.

Di segera mengambil hpnya  dengan tangan kanannya yang masih keram itu.

Dia pun sedikit sok… karena jam di hpnya menunjukan pukul 12 malam.

Dimana aku?” tanyanya dalam hati sambil menghidupkan senter untuk penerangan.

Lalu dia berdiri.

Saat itu dia berdiri tepat didepan jendela kaca dimana dia melihat mata kiri berkedip padanya.

Namun bedanya kaca itu sangat kotor, berbeda sekali  dengan yang dia lihat ketika sore hari.

Lantai teras pun sangat kotor, dan terasa sekali di telapak kakinya.

Dia pun teringat sore itu dia melepas kaus kaki dan sepatunya namun sore itu lantainya bersih dan sekarang sangat kotor seperti tak pernah di bersihkan.

Edi pun segera pergi dari tempat itu, yang saat itu dia lihat bersih kini menjadi kumuh.

Saat dia sudah keluar dari halaman rumah kosong itu menenteng sepatu dan kaus kakinya dengan tangan kiri.

Dan tangan kanannya yang masih keram menggenggam hp.

Dia memandang rumah gelap yang baru saja dia tiduri itu.

Ternyata aku dikerjai ya…” ucapnya sambil menggerutu.

Dia pun heran kenapa dia bisa-bisanya sampai di kerjai oleh hal-hal seperti itu.

Edi pun pulang dengan badan yang sangat letih dan kotor.

Sampai di depan kos-kosan dia pun di buat panik.

Pintu kosannya terbuka dan rusak.

Dan tergeletak 2 security di depan pintu itu.

Edi segera meletakkan sepatu dan kaus kakinya.

Dan lari menuju ke security itu.

Pak bangun pak… paakkk, apa yang terjadi disini pak bicaralah..?
Namun kedua security itu tak bangun, malah salah satu security mendengkur dengan keras.

Edi pun langsung masuk ke dalam kosannya.

Edi sangat kaget, dan lebih kaget daripada digigit oleh kakek keriput dirumah kosong itu.

Dia mendapati dapur kosannya penuh dengan warna hitam.

Ya warna hitam karena kebakaran.

Belum selesai dengan kagetnya, tiba-tiba pundak kanannya dipegang oleh seseorang dari belakang.

Edi tak berani menoleh dan dia kembali menelan air ludahnya yang entah rasa apa itu.

Hei kenapa kamu malah tegang?” tegur seseorang tersebut.

Huff… ternyata pak rt” ucap Edi dengan lega.

Kemana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya pak rt sambil menunjuk jam.

Lihat badan kamu kotor sekali, abis mandi debu kamu ya…?!” ucap pak RT

Menunjuk badan Edi yang memang kotor karena penuh dengan debu dari rumah kosong itu.

Pak rt apa yang terjadi pada dapur saya sampai kebakaran seperti ini?” Edi balik bertanya pada pak rt dengan nada sedih.

Kompor gas kamu meledak, karena kompornya kelamaan hidup. Apakah kamu lupa mematikan kompor?” penjelasan dan tanya pak rt pada Edi.

Tadi pagi saya berangkat kerja terburu-buru pak, jadi saya lupa mematikan kompor” ucap Edi dengan menepok jidatnya karena menyesal.

Ya sudahlah…. sekarangkan sudah malam, kamu istirahat saja ini sudah jam 1 malam” ucap pak rt sambil pergi menjemput kedua security yang tertidur pulas di pintu depan yang rusak karena di dobrak untuk memadamkan kebakaran di dapur Edi.

Edi pun seger membereskan semuanya.

Esok paginya, Edi memulai hari dengan sedikit tenang.

Namun Edi masih terheran-heran dengan apa yang dia alami tadi malam.

Baik di rumah kosong dan apa yang terjadi di kosannya.

Edi merasa dirinya jauh dari ketenangan, seperti ada hal yang terlupakan.

Entahlah apa itu, Edi pun berangkat bekerja lagi dengan rasa letih di seluruh badannya.

Di perempatan jalan ada sebuah warung makan tepatnya 10 meter sebelum kantornya.

Di warung makan tersebut, duduk seorang anak dan ibunya.

Sejanak Edi memperhatikannya, tiba-tiba ibu itu memukul tangan anaknya yang akan melahap sebuah krupuk yang baru di sajikan oleh pelayan warung itu.

Loh, kenapa?” tanya Edi di dalam hati dengan sedikit heran.

Adeekkk gak boleh makan sebelum doa…. , doa… dulu baru makan…” ucap ibu itu pada anaknya sambil menaruh krupuk yang mau di makan anaknya tadi.

Plakkk…” suara Edi menepok jidatnya dengan keras, hingga jidatnya terasa panas.

Edi pun menelan ludah sambil menghela nafas.

Huffff…. pantas saja, ternyata selama ini aku lupa berdoa karena aku selalu terburu-buru.” ujar Edi sambil mulai berjalan menuju kantor dangan tangan masih berada di jidatnya.

Luasnya Makna Lampu di Sudut Jalan

Luasnya Makna Lampu di Sudut Jalan

Di sore hari yang masih terasa panasnya sinar matahari

Gubrakkkk…..!!!” tiba-tiba Andi seorang pengendara motor terkapar lemas dan tak berdaya di sisi jalan.

Dia terjatuh dan terpisah dari motornya hingga 7 meter. Matanya masih terlihat sayup-sayup, dia hanya bisa melihat kerumunan kaki mendekati dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa… hingga akhirnya dia pun terlelap.

Andi tersadar dengan rasa sakit di kepalanya, dia pun mencoba membuka matanya. Namun, dia sulit untuk melakukannya.

Kelopak matanya seolah tak menurut lagi dengan keinginannya untuk membuka mata.
“Tenangkan diri anda pak, saat ini anda butuh banyak istirahat…” ujar dokter sambil membenahi kepala Andi yang tergeser dari bantalnya.

Tak banyak yang bisa Andi ingat, namun satu yang pasti dia ingat, gadis kecil dan seorang kekasih yang sudah menunggunya di rumah.

Dia pun berusaha lagi membuka kedua matanya.
Ya… usahanya kali ini berhasil, namun semua yang dia pandang terlihat buram dan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi.
Aaaa…..sakittt sekali….” keluh Andi sambil memegang kepalanya yang di perban.

Tenanglah mas… anda sedang terluka parah karena kecelakaan” dokter kembali mengingatkannya.
Kecelakaan… “ ujar Andi sambil meringis kesakitan dan kembali terpejam.

Dia pun teringat, saat dia melaju kencang dengan motornya walaupun dia melihat bahwa lampu merah masih menyala.

Dia pun teringat, bagaimana kelakson mobil besar berbunyi keras dan mobil tersebut mendekat kearahnya dengan cepat, lalu menabrak dirinya hingga membuatnya terlempar dan terpisah dengan motornya.

Iya pun kembali mengingat kerumunan kaki yang mendekat padanya.

Setelah mengingat apa yang terjadi padanya tangannya gemetar hebat.

Air matanya menetes dan membasahi perban di tangannya itu
Apakah aku masih hidup…?” tanyanya entah pada siapa.

Terlintas di ingatannya, setiap hari ia di sambut gembira ketika pulang kerja oleh anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun dan seorang istri setia nan cantik yang sangat dia sayangi.

Penyesalan seolah sedang mencekiknya.
Luka-luka di kepala, tubuh, tangan, dan kaki seolah meneriaki dan menjerit padanya.

Kenapa….? kenapa….? kenapa….?  kau mengabaikan lampu kecil di sudut jalan yang berwarna merah itu

Dia pun kembali teringat nasihat seorang polisi yang menilangnya minggu lalu karena dia menerobos lampu merah.

Bapak ini tidak punya keluarga atau tidak sayang keluarga. Kalau bapak mengalami hal yang tidak diinginkan bagaimana…? Sayangilah keluarga bapak dengan menjaga keselamatan diri bapak sendiri, kalau bapak menjaga diri sendiri saja tidak bisa bagaimana bapak akan menjaga mereka…?”  nasihat pak polisi sambil menulis di kertas tilang.

Dadanya pun semakin sesak dengan mengingat nasihat pak polisi itu.
Seolah semua catatan pelanggaran miliknya sedang di bacakan oleh rasa sakit yang dia rasakan.
Isak tangis Andi pun semakin menjadi ketika terdengar  suara seorang gadis kecil.

Ayahhh…. “ teriak anak perempuannya yang datang dengan bingung melihat ayahnya terkapar di kasur dengan kepala di perban hingga menutupi satu matanya.

Mas…. kenapa bisa begini….?” tanya sang istri sambil menangis dan langsung memegang erat tangan kanannya yang pucat dan dingin itu.
Saat itu perasaan yang Andi rasakan campur aduk. Sedih, sesal, sakit dan syukur.

Ya…  Andi sangat sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk hidup dan masih bisa memeluk orang-orang yang dia sayangi.
Karena tidak semua penerobos lampu penuh makna itu seberuntung Andi.

Motivasi Dibayar Kopi

Motivasi Dibayar Kopi

Sapu tangan Anisa seolah sudah tak mampu menahan air mata yang terus menetes tanpa henti. Ya… dia baru saja di tinggal pergi oleh ayahnya untuk selama-lamanya.


Kecelakaan ayahnya seolah selalu membayangi dan menghantui pikirannya. Bagaimana tidak, ayah yang selalu ada dan sayang padanya harus meninggalkannya dengan cara mengenaskan.


Namun, Anisa berusaha untuk menghentikan kesedihannya tersebut. Karena Anisa tau bahwa di kantor, dia dilarang untuk bersedih.



Pak Anton adalah bos Anisa di kantor, dia sangat benci sekali terhadap orang yang bersedih. Bahkan dia terlalu sering memecat karyawannya karena ketahuan bersedih.
Itulah alasan mengapa Anisa berusaha untuk menghentikan kesedihannya. Anisa takut jika dia ketahuan bersedih dia akan di pecat dari pekerjaan yang sangat penting baginya itu.
Setelah Anisa mulai bekerja di kantor lagi, banyak teman kerja Anisa yang turut berbela sungkawa, tapi teman-teman Anisa pun menyampaikannya dengan diam-diam tanpa di ketahui oleh sang bos yaitu Pak Anton.
Semua teman Anisa mencoba menutupi kesedihan Anisa, karena semua tau bagaimana sifat sang bos.
Ketika Anisa duduk di meja kerjanya, dia terus mencoba tenang dan masih berusaha menahan air matanya yang tidak mau berhenti menetes.
Tiba-tiba Pak Anton datang dengan mengejutkan, lalu menyapa semua karyawannya.
Pagi semua..!” ucapnya dengan semangat.
Pagi Pak Anton...”  semua menjawab dengan semangat, kecuali Anisa.
Karena Anisa tidak menjawab, Pak Anton pun memperhatikan Anisa dari kejauhan dan dia pun penasaran karena Anisa tidak menjawab sapaannya.

Teman-teman Anisa terlihat tegang karena takut Anisa ketahuan bersedih oleh Pak Anton.
Pak Anton pun berjalan menuju ke arah Anisa yang duduk dan menundukan kepala di atas meja.
Maaf pak, laporan keuangan bulan ini sudah selesai dibuat pak.” ucap Tania untuk mengalihkan perhatian Pak Anton agar tidak menuju ke Anisa.
Usaha Tania berhasil mengalihkan perhatian sang bos.

Tania adalah teman Anisa yang paling dekat jadi dia tidak ragu membantu dan peduli kepada Anisa.

Perlahan bos pun meninggalkan Anisa.
Suasana tegang yang tadi ada kini sudah menjadi lega.


Tapi penasaran Pak Anton terhadap Anisa sangatlah besar.

Itu terbukti karena saat Anisa pulang, diam-diam Pak Anton mengikuti Anisa dari belakang dan terus mengamatinya.
Tapi Anisa mengetahui hal itu, karena itu dia berusaha berjalan lebih cepat.

Pak Anton terus mengikuti  Anisa, namun Pak Anton kehilangan Anisa.



Pak Anton mencoba mencari Anisa di lokasi dimana dia terakhir melihatnya.

Tiba-tiba dari belakang ada seorang yang menegur Pak Anton.

Ada apa ya pak…?” ucap Anisa dengan suara serak.

Pak Anton pun kaget dan berbalik kebelakang.

oh.. a..Anisa…?” ujar Pak Anton sedikit salah tingkah.

Ke..Kenapa bapak mengikuti saya sampai sejauh ini ?” Anisa bertanya dengan nada ragu

Wah… jadi saya ketahuan ya…. heheh” ujar Pak Anton dengan sedikit tertawa…

Karena Pak Anton sudah tertangkap basah mengikuti Anisa. Pak Anton pun mengajak Anisa ngobrol di warung kopi.
Datanglah seorang pria menghampiri meja Pak Anton dan Anisa.

Silakan pak, mbak kopinya” ucap pelayan yang menawarkan kopi

Terima kasih mas…” jawab Pak Anton menganggukan kepalanya.

Maaf ya Anisa saya gak sopan ikutin kamu dari belakang.” ucap Pak Anton membuka percakapan.

Oh,  g..gak apa-apa kok pak..” jawab Anisa terbata-bata.

Pak Anton meminum kopi dengan santainya

Maaf pak,  tapi mengapa bapak mengikuti saya…?” tanya Anisa dengan suara pelan

Sebenarnya saya hanya ingin tau saja, kenapa kamu bersedih.” jawab Pak Anton.

Jadi bapak tau saya sedang bersedih? Apakah saya akan di pecat pak…” tanya Anisa dengan nada agak panik.

Iya, setelah saya tau apa alasan kamu bersedih, sampai-sampai kamu berani membawa kesedihanmu itu ke kantor saya...” ucap Pak Anton dengan nada santai dan sambil meniupi kopi panasnya.

Jadi apa alasan kamu bersedih…?” tanya Pak Anton sambil menunjuk Anisa.
Ayah saya meninggal pak…  tiga hari yang lalu… karena kecelakaan” ucap Anisa sambil menahan air matanya dengan sapu tangan.

Pak Anton pun sedikit kaget dan segera menaruh kopinya di atas meja.

Jadi apakah kamu terus menangis selama 3 hari ini..?” tanya Pak Anton dengan nada pelan.

Iya pak…” jawab Anisa sambil menangis pelan.

Jadi, apakah kamu akan terus menangis seperti ini..?” tanya Pak Anton dengan sedikit menggebrak meja.

Sontak Anisa pun kaget karena hal itu dan di hanya terdiam.

Saya tau benar perasaan kamu, karena saya pun pernah mengalami hal sepertimu… tapi itu dulu waktu saya masih kelas 3 smp...” ucap Pak Anton dengan santai.

Anisa pun sedikit kaget dan coba menatap Pak Anton.

Pak Anton pun kembali menyeruput kopinya.

Iya…, saya dulu di tinggal kedua orang tua saya, saat saya masih kelas 3 smp, kedua orang tua saya meninggal karena musibah tanah longsor.” ucap Pak Anton sambil menaruh kopinya

Jadi saya tau benar perasaan kamu saat ini, tapi kamu takkan pernah tau perasaan saya saat itu.” ucap Pak Anton.

Anisa pun hanya terdiam.

Saya hanya sebatang kara hidup di kampung, hanya sedikit orang yang peduli pada saya. Orang tua saya hanya seorang buruh tani ubi, tak banyak yang mereka tinggalkan untuk anaknya ini. Mungkin saja saya akan mati jika saya dulu tidak bisa memotivasi diri saya sendiri saat itu.” ucap Pak Anton sambil tersenyum.

Pak Anton pun mengeluarkan pulpen dari sakunya, dan menulis diatas selembar tisu lalu Pak Anton memberikan tisu tersebut pada Anisa.

Iya itulah motivasi saya, untuk apa saya terus bersedih semua kesedihan itu tak akan membuat saya menjadi lebih baik.” ucap Pak Anton dengan tegas.

Dengan motivasi itu, saya memulai hidup saya sendiri, mencari makan dan biaya sekolah sendiri dari berjualan ubi bakar. Itu adalah hal yang sangat berat bagi saya, seorang  anak kelas 3 smp yang berusaha bertahan hidup tanpa orang tua dan tanpa kasih sayang.” ucap Pak Anton dengan pandanagan mata yang sedih mengenang masa lalunya.

Anisa pun lagi-lagi hanya terdiam dan mulai berhenti menagis.
Dan saya paling benci, dengan orang yang bersedih hanya karena hal-hal sepele.” tegas Pak Anton yang coba melupakan masa lalunya.

Alasan saya selalu memecat karyawan saya yang bersedih karena mereka itu terlalu cengeng. Mereka bersedih hanya karena  putus cinta, di selingkuhi, di khianati dan bahkan ada yang hanya kehilangan kenangan dari mantannya pun bersedih.  Saya heran mengapa mereka mensia-siakan air mata untuk hal yang tak penting itu..” ucap Pak Anton sambil geleng kepala karena heran.


Itulah alasan saya memecat karyawan saya yang bersedih.” tegas Pak Anton.
Akhirnya Anisa pun mulai sedikit paham dengan bosnya tersebut.


Satu pesan saya buat kamu Anisa…”  ucap Pak Anton menunjuk Anisa


Kamu jangan berfikir kamulah yang paling menderita di dunia ini hanya karena kamu di tinggal ayahmu. Karena di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu… dan kamu seharusnya bersyukur masih banyak orang yang peduli padamu, seperti Tania atau teman-teman kerjamu yang lainnya” pesan dari Pak Anton sambil menghabisakan kopinya.
Anisa pun berdiri dari tempat duduknya.


Terima kasih banyak pak untuk motivasinya” ucap Anisa dengan bersemangat.
Kemudian Pak Anton pun ikut berdiri.

Sudahlah itu hal biasa yang dilakukan oleh seorang boss.. hahaha” ucap Pak Anton sambil tertawa.
Anisa pun hanya tersenyum.



Oh iya…. satu lagi Anisa, tolong kamu bayarin ya kopi saya hehehe, itung-itung buat bayar motivasi dari saya”  bisik Pak Anton sambil berjalan.

Misteri Korban Pencurian Sendal

Misteri Korban Pencurian Sendal
Di suatu malam dengan bulan purnama yang terang…
Si Cemong berjalan terburu-buru membawa sendal miliknya sambil memakai sendal baru yang baru saja dia ambil dari depan rumah Pak RT.
Lumayanlah dapet sendal baru, bagus pula warnanya, warna ungu warna kesukaanku banget” kata si cemong dalam hati dengan bahagia….

Pak RT memang terkenal mempunyai banyak sendal yang bagus-bagus, karena memang anak Pak RT perempuan semua.
Jadi wajar kalau Pak RT punya banyak sendal bagus.
Dan malam tersebut merupakan kesempatan si cemong untuk mencuri sepasang sandal Pak RT.
Untung aja di depan rumah Pak RT ada pohon besar dan semak-semak tinggi jadi gak mungkin ketahuan deh.. ngambil sendalnya” ujar Si Cemong dengan lega..
Di ambil satu pasang juga gak apa apalah, lagian sandal Pak RT banyak…” kata cemong dalam hati sambil berjalan menuju…. masjid untuk sholat isya…
Setelah sampai di masjid, dengan segera si cemong mengambil air wudhu dan meninggalkan sandal baru dan lamanya…. di depan masjid….
Biasanya setelah selesai sholat,  si cemong ngobrol bareng bersama teman-temannya di teras masjid hingga larut malam.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sebelas malam…
Si cemong segera mengambil sendal baru dan lamanya…
Sayang, yang ada hanyalah sendal lama milik si cemong. Sedangkan sendal baru yang ia curi dari Pak RT sudah hilang.
Ahhh… ini pasti ulah teman-teman.” pikir si cemong
Setelah si cemong menanyakan sendal kepada teman-temannya tak ada satu pun orang yang tau dimana dan siapa yang mengambil sendal baru si cemong tersebut.
Sialan baru aja dapet sendal bagus malah hilang lagi….” ujar cemong dengan geram dan emosi.
Lalu si cemong memutuskan untuk pulang kerumah dan berencana mencarinya lagi besok.
Paginya setelah si cemong bangun, ia merasa bingung… dan bertanya-tanya.
Loh kok sendal ini bisa ada dirumah.” ujar si cemong sambil garuk-garuk kepala.
Padahal tadi malam waktu mau pulang hilang… di cari juga gak ketemu, kok bisa ada di sini ya….. siapa yang bawa.” pikir si cemong semakain bingung.
Siangnya saat pulang sekolah, si comong bersama teman-temannya dan salah satu anak Pak RT pulang bersama.
Dan mereka membahas sendal si cemong yang hilang tadi malam.
Cemong gimana sendal mu? udah ketemu belum..?” tanya teman si cemong.
Udah sih” kata si cemong.
Tapi anak Pak RT langsung memotong omongan si cemong.
Eh iya, sendalaku yang baru juga hilang” ujar anak Pak RT dengan kesal.
Jadi sandal dia ya….yang aku ambil tadi malam.” ujar cemong dalam hati sambil menganggukan kepalanya.
Boleh tau sendal kamu warna apa?” tanya si cemong kepada anak Pak RT.
Sendalku yang hilang warna pink… tapiii… setelah di cari bapak ku…. ternyata sandal ku ketemu, ketemunya di kamar mandi.” ujar anak pak rt sambil tertawa….
itu mah bukan hilang tapi lupa…. hahaha” ujar temen-teman si cemong sambil tertawa.
Si cemong terlihat semakin bingung dan bertanya-tanya.
Sendal tadi malam kan warna ungu tapi sendal anak Pak RT yang hilang warna pink, terus punya siapa sendal itu.?” ujar si cemong dalam hati dan penasaran.
Setelah sampai di rumah dengan rasa penasaran, si cemong segera mengambil sendal barunya yang berwarna ungu itu.
Tetapi sendal tersebut hilang lagi. Si cemong bener-benar bingung .
Kenapa sendalnya hilang lagi… ya.” pikir cemong.
Sore hari…. setelah sholat ashar si cemong melewati rumah Pak RT lagi dan iseng melihat lokasi saat iya mencuri sandal Pak RT.

Namun, adahal yang sangat-sangat tidak di duga-duga oleh si cemong

Loh kok sendalnya ada disini lagi.” ujar si cemong dengan terkejut.
Si cemong terkejut setengah mati karena melihat sendal yang dia bawa kemarin kembali ketempat semula.
Setelah terheran-heran dengan hal tersebut. Tiba-tiba terdengar suara.
dek… bawa aja lagi sendalnaya, biar nanti kakak ambil lagi” suara misterius yang di dengar si cemong.
siapa itu..!!!” tanya cemong sedikit gelisah.. 
Namun tak ada orang pun yang menjawab.
Si cemong pun clingak clinguk….. mencari suara siapa itu.  
Sejenak si cemong berfikir dan ia pun baru menyadari bahwa ia berada di bawah pohon besar dan semak-semak tinggi yang mana lokasi tersebut terkenal seram di desanya.

tanpa berpikir lagi si cemong lekas berlari sekencang-kencangnya bahkan ia belum pernah lari sekencang itu sebelumnya.

sambil bertriak… “SETAAAAAAAANNNNNN…………………………..!!!!!!!!

Akhirnya sendal berwarna ungu itu ditinggalkan begitu saja oleh si cemong di bawah pohon besar dan semak-semak tinggi di depan rumah Pak RT.